TULUNGAGUNG - Pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Tulungagung di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, dipastikan tetap berjalan meski sebagian lahan berada di bawah lintasan saluran udara tegangan ekstra tinggi (sutet).
Kondisi tersebut membuat desain bangunan harus disesuaikan agar tidak bersinggungan dengan jaringan listrik bertegangan tinggi.
Lokasi pembangunan tidak berubah dan tetap menggunakan lahan yang telah disiapkan di Desa Ringinpitu. Penyesuaian hanya dilakukan pada desain serta pemanfaatan area yang berada di bawah lintasan sutet.
Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin mengatakan, bagian lahan yang terkena lintasan sutet tidak akan digunakan untuk bangunan bertingkat tinggi. Area tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk fasilitas lain yang lebih sesuai.
"Bangunannya yang terlewat, terkena SUTET ini nanti, direncanakan tahap-tahap bangunan yang tingkat. Mungkin dibuat lapangan olahraga atau lapangan yang lain," ujarnya, Selasa (8/9).
Baca Juga: Sekolah Rakyat Tulungagung Tetap Dibangun, Desain Diubah karena Jalur Sutet
Menurut Ahmad, perubahan desain menjadi pilihan paling memungkinkan agar proyek tetap terlaksana tanpa memindahkan lokasi. Terlebih, pemindahan jaringan sutet membutuhkan proses yang panjang.
"Tempatnya tetap di situ, cuma diubah desain bangunan," tegasnya.
Dengan skema tersebut, area yang berada tepat di bawah jaringan tegangan ekstra tinggi akan diarahkan untuk fasilitas yang tidak membutuhkan bangunan bertingkat. Sementara bangunan utama SR ditempatkan pada bagian lahan yang tidak dilintasi jaringan listrik.
Penyesuaian desain tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian Dinas Sosial (Dinsos) Tulungagung. Kepala Dinsos Tulungagung Reni Prasetiawati Ika Septiwulan mengatakan, PLN Madiun telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan.
Dari peninjauan tersebut, jaringan sutet tidak direkomendasikan untuk dipindahkan. Salah satu pertimbangannya adalah proses pemindahan yang dapat membutuhkan waktu hingga dua tahun.
Baca Juga: Mengapa Jalur SUTET Sulit Dipindahkan? Ini Alasan Relokasi Bisa Memakan Waktu Bertahun-tahun
Karena itu, pemkab memilih menyesuaikan rancangan bangunan daripada menunggu pemindahan jaringan. Langkah tersebut diharapkan membuat pembangunan tetap berjalan sekaligus memperhatikan aspek keselamatan dan ketentuan teknis jaringan listrik.
Di sisi lain, pembangunan Sekolah Rakyat Tulungagung ditargetkan mulai masuk tahap konstruksi pada tahun ini. Ahmad menyebut pekerjaan awal direncanakan dimulai Oktober mendatang.
"Tahun ini dimulai, tapi tahapannya baru Oktober dimulai," katanya.
Namun, Ahmad belum dapat memastikan durasi keseluruhan pembangunan. Hal itu lantaran proyek tersebut menjadi bagian dari tahapan pembangunan yang ditangani pemerintah pusat.
Sebelumnya, pembangunan fisik SR Tulungagung direncanakan mulai Oktober 2026. Pelaksanaan pembangunan berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Baca Juga: Aturan Keselamatan Bangunan di Bawah SUTET, Ini Batas Ketinggian dan Jarak Amannya
Sekolah Rakyat tersebut nantinya diproyeksikan memiliki kapasitas antara 1.000 hingga 2.000 siswa. Peserta didik yang menjadi sasaran utama berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi paling rendah, terutama kelompok desil 1 dan desil 2.
Program tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi anak yang akan memasuki jenjang SD, SMP, maupun SMA. Anak putus sekolah juga mendapat kesempatan untuk kembali memperoleh akses pendidikan melalui program tersebut.
Berdasarkan pendataan tahap awal, sekitar 700 calon siswa telah masuk dalam daftar. Data tersebut masih harus melalui proses verifikasi oleh Kementerian Sosial.
Dengan perubahan desain tersebut, Pemkab Tulungagung berharap keberadaan lintasan sutet tidak menghambat realisasi Sekolah Rakyat. Proyek tetap diarahkan berjalan di lokasi semula dengan penataan bangunan dan fasilitas berdasarkan kondisi lahan.
Penempatan bangunan utama di area yang tidak dilintasi jaringan tegangan ekstra tinggi menjadi bagian dari penyesuaian tersebut. Sementara area di bawah lintasan sutet diarahkan untuk fungsi yang lebih sesuai sehingga pembangunan tetap dapat dilanjutkan.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri