TULUNGAGUNG - Kekeringan Tulungagung mulai berdampak terhadap ribuan warga di sejumlah wilayah. Hingga 7 September 2026, sebanyak 1.008 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.804 jiwa tercatat mengalami dampak akibat keterbatasan sumber air bersih.
Kondisi tersebut membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung terus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air. Hingga tanggal tersebut, bantuan yang telah didistribusikan mencapai 39 rit.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tulungagung Teguh Abianto mengatakan, bantuan air bersih telah menjangkau sembilan desa yang tersebar di lima kecamatan.
Sembilan desa tersebut meliputi Desa Kalidawir dan Desa Rejosari di Kecamatan Kalidawir, Desa Sebalor di Kecamatan Bandung, serta Desa Pakisrejo, Desa Joho, dan Desa Kresikan di Kecamatan Tanggunggunung.
Baca Juga: Kekeringan Meluas ke Enam Desa, BPBD Tulungagung Salurkan 17 Rit Air Bersih untuk 1.148 Warga
Bantuan juga menyasar Desa Keboireng dan Desa Besuki di Kecamatan Besuki. Sementara satu desa lainnya adalah Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat.
“Sampai 7 September 2026, bantuan air bersih sudah kami salurkan sebanyak 39 rit. Bantuan tersebut menjangkau sembilan desa yang tersebar di lima kecamatan, dengan jumlah warga terdampak sekitar 1.008 KK atau 2.804 jiwa,” ujar Teguh Abianto.
Berdasarkan rekapitulasi data BPBD Tulungagung, wilayah kecamatan yang tercatat terdampak kekeringan terdiri dari Pucanglaban, Kalidawir, Bandung, Tanggunggunung, dan Besuki.
Data tersebut menunjukkan penanganan kekeringan mencakup sejumlah wilayah dengan karakteristik serta tingkat kebutuhan air yang berbeda. BPBD pun terus memantau kondisi sumber air di wilayah terdampak untuk menentukan kebutuhan penanganan berikutnya.
Baca Juga: 11 Hektare Sawah di Tulungagung Terdampak Kekeringan, Waspadai Puncak Kemarau Agustus–September 2026
Besarnya jumlah warga yang terdampak membuat kebutuhan air bersih menjadi perhatian. Distribusi bantuan dilakukan untuk membantu masyarakat yang mulai mengalami keterbatasan sumber air, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Teguh menjelaskan, penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui distribusi bantuan air bersih. BPBD juga melakukan pemantauan terhadap kondisi sumber air di wilayah yang terdampak.
Pemantauan tersebut diperlukan untuk mengetahui perkembangan kondisi kekeringan sekaligus memetakan wilayah yang berpotensi membutuhkan bantuan lanjutan.
“Saat ini ada sembilan desa di lima kecamatan yang tercatat terdampak. Kami terus melakukan pemantauan, terutama terhadap wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air bersih,” jelasnya.
Dengan jumlah mencapai 2.804 jiwa, dampak kekeringan telah menyentuh kebutuhan dasar masyarakat di sembilan desa. Karena itu, distribusi air bersih terus disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah.
BPBD Tulungagung masih memantau perkembangan kondisi di lapangan. Penyaluran bantuan tidak dilakukan dengan jumlah yang sama untuk setiap wilayah, melainkan menyesuaikan kebutuhan masyarakat serta kondisi sumber air.
Teguh mengatakan pemantauan diperlukan agar bantuan dapat diarahkan ke wilayah yang memang mengalami keterbatasan sumber air bersih.
“Kami masih memantau perkembangan kondisi di lapangan. Distribusi air bersih akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi sumber air di masing-masing wilayah terdampak,” tandasnya.
Hingga 7 September 2026, total 39 rit air bersih telah disalurkan BPBD untuk membantu masyarakat terdampak. Penanganan masih berjalan seiring pemantauan terhadap perkembangan kekeringan di sejumlah wilayah Tulungagung.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri