TULUNGAGUNG - Lebih dari 100 siswa SMKN 1 Boyolangu mengalami keluhan kesehatan setelah menerima makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (17/9). Keluhan yang paling banyak dilaporkan berupa diare dan sakit perut.
Sekolah mencatat sementara lebih dari 100 siswa mengalami keluhan dari sekitar 1.600 porsi makanan yang dibagikan. Namun, jumlah tersebut belum final karena Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung masih melakukan pendataan dan verifikasi.
Laporan mulai diterima sekolah pada Kamis pagi. Sejumlah wali kelas mendapat informasi dari siswa bahwa mereka mengalami sakit perut pada malam setelah menerima makanan MBG.
“Wali kelas mendapat laporan dari murid di kelasnya bahwa malam sebelumnya ada beberapa siswa yang mengalami sakit perut. Ada yang satu kali, dua kali, sampai tiga kali,” ujar staf Humas Pelayanan Informasi SMKN 1 Boyolangu, Benny Mamora.
Sekolah melakukan pendataan awal melalui kuesioner. Hasil sementara menunjukkan lebih dari 100 siswa melaporkan keluhan kesehatan.
“Kalau dari kuesioner awal yang kami lakukan untuk siswa, jumlahnya lebih dari 100. Tetapi untuk pendataan yang lebih detail kemudian dilanjutkan dinkes,” kata Benny.
Meski demikian, kondisi siswa disebut relatif terkendali. Dari kuesioner awal, tidak ditemukan laporan siswa mengalami muntah maupun demam.
Sebagian siswa juga telah membaik setelah mendapatkan obat antidiare. “Tidak ada siswa yang dilaporkan muntah. Keluhannya lebih banyak sakit perut. Setelah diberikan obat antidiare, banyak yang kemudian membaik,” ujar Benny.
Kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berjalan. Sekolah menyebut hanya satu-dua siswa yang masih mengalami keluhan.
Baca Juga: Ratusan Warga Tulungagung Keracunan Menu MBG, Termasuk Balita dan Ibu Menyusui
Ketua Satgas MBG Kabupaten Tulungagung J Bagoes Kuncoro mengatakan laporan kejadian tersebut muncul sekitar pukul 08.00. Pihak SPPG kemudian mendatangi sekolah dan berkoordinasi dengan PIC.
Berdasarkan informasi awal yang diterima, terdapat tiga orang yang mengeluhkan sakit perut dan diketahui memiliki riwayat maag serta mengonsumsi sambal.
Adapun menu MBG yang didistribusikan sehari sebelumnya, Rabu (16/9), terdiri atas nasi daun jeruk, ayam goreng, lalapan, tempe goreng, dan anggur.
Bagoes menyebut makanan dimasak sekitar pukul 02.00. Selanjutnya, makanan menjalani proses packing pukul 09.00 dan didistribusikan pukul 10.30. Siswa kemudian mengonsumsi makanan sekitar pukul 12.00 hingga 13.00.
Sementara itu, Kabid P2P Dinkes Tulungagung dr Aris Setiawan mengatakan hingga Kamis sekitar pukul 17.30 terdapat sekitar 89 siswa yang tercatat berkunjung ke UKS.
Baca Juga: Relawan SPPG Menganggur, 8 Dapur MBG di Tulungagung Kena Sanksi Suspend Imbas Dugaan Keracunan
Namun, angka tersebut belum dapat dijadikan jumlah pasti siswa yang terdampak. Sebab, pendataan terhadap siswa yang mengalami keluhan masih berlangsung.
“Datanya terus bergerak. Saya belum bisa memastikan jumlah yang terdampak atau mengalami keluhan sampai berapa,” ujar dr Aris.
Dinkes juga mendata siswa yang tidak masuk sekolah dan kemungkinan mengalami keluhan di rumah. Verifikasi akan kembali dilakukan pada Jumat (18/9) melalui survei epidemiologi dan formulir yang telah disiapkan.
Keluhan yang menjadi bagian pendataan meliputi sakit perut, mual, muntah, hingga diare. Hasil verifikasi tersebut nantinya menjadi dasar untuk mengetahui jumlah siswa yang mengalami keluhan setelah menerima makanan MBG.(bac/sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri