TULUNGAGUNG - Sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 1 Boyolangu diamankan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung untuk pemeriksaan lebih lanjut. Langkah tersebut dilakukan setelah lebih dari 100 siswa dilaporkan mengalami diare dan sakit perut.
Meski sampel telah diamankan, Dinkes belum memastikan makanan MBG menjadi penyebab keluhan yang dialami siswa. Petugas masih melakukan pendataan dan penelusuran terhadap kemungkinan sumber keluhan.
Kepala Dinkes Tulungagung Desi Lusiana Wardhani mengatakan, makanan MBG menjadi salah satu yang dikonsumsi banyak siswa pada hari kejadian. Karena itu, sampel makanan tersebut diamankan untuk diperiksa.
“Kita juga belum mengetahui pasti apa benar dipicu menu MBG. Hanya kejadiannya di sekolah sehingga kami akhirnya ke sini karena berkumpulnya di sini. Tapi untuk sampel MBG, karena makanan terbanyak yang dimakan pasti MBG, itu sudah diamankan oleh teman-teman,” ujar Desi.
Baca Juga: Lebih dari 100 Siswa SMKN 1 Boyolangu Tulungagung Keluhkan Sakit Perut Usai Terima MBG
Penelusuran Dinkes tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah. Petugas juga mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi pemasok makanan MBG.
Pemeriksaan tersebut diarahkan untuk mengetahui kondisi makanan sekaligus proses penyediaannya. Dinkes belum menarik kesimpulan karena pendataan siswa dan pemeriksaan sampel masih berlangsung.
“Untuk selanjutnya, kami masih proses pendataan,” kata Desi.
Kabid P2P Dinkes Tulungagung dr Aris Setiawan mengatakan petugas mendapatkan sampel menu MBG, termasuk makanan yang dikonsumsi dua hari sebelumnya. Sampel tersebut kemudian dikemas dan dikirim untuk pemeriksaan.
“Sampel tersebut telah dikemas dan dikirim ke BPL Kesehatan Surabaya untuk pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.
Baca Juga: Supplier Soroti Pesanan Mendadak dan Pembayaran yang Terlambat dalam Program MBG
Aris menjelaskan, dugaan sumber keluhan siswa belum dapat dipastikan. Sebab, berdasarkan informasi awal, sebagian siswa sudah merasakan keluhan sejak Rabu malam.
Karena itu, petugas tidak hanya memeriksa makanan MBG, tetapi juga menelusuri kemungkinan paparan dari makanan yang dikonsumsi siswa sebelumnya. Pendataan dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap mengenai kejadian tersebut.
Dinkes juga mengarahkan siswa yang masih mengalami gejala untuk mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan pemerintah. Siswa dapat mendatangi puskesmas maupun rumah sakit untuk memperoleh penanganan.
Sementara itu, terkait kemungkinan penghentian operasional SPPG, Aris menegaskan keputusan tersebut bukan berada di tangan Dinkes. Kewenangan penghentian operasional SPPG berada di Badan Gizi Nasional (BGN).
“Dinkes saat ini lebih fokus pada penanganan siswa yang mengalami keluhan serta pengumpulan data untuk mengetahui penyebab kejadian,” tandasnya.(bac/sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri