TULUNGAGUNG - Budidaya tembakau Tulungagung masih menunjukkan potensi pada 2026. Luas tanaman tembakau di daerah tersebut tercatat sekitar 988 hektare dengan produktivitas rata-rata mencapai 1,6 ton rajangan kering per hektare.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung Suyanto mengatakan, luasan tersebut menjadi gambaran perkembangan pertanian tembakau di Tulungagung sepanjang tahun ini. Produktivitas tanaman dihitung berdasarkan hasil rajangan kering.
“Untuk saat ini, luas tanaman tembakau di Tulungagung sekitar 988 hektare. Produktivitasnya sekitar 1,6 ton untuk rajangan kering,” ujar Suyanto.
Menurutnya, kondisi cuaca pada tahun ini turut mendukung petani tembakau. Kemarau panjang dinilai memberikan kondisi yang sesuai bagi tanaman sehingga petani dapat mengoptimalkan proses budidayanya.
Baca Juga: Musim Kemarau Bawa Berkah, Harga Tembakau Rajangan di Tulungagung Tembus Rp 110 Ribu Per Kg
“Sangat mendukung sekali. Jadi, petani kita, khususnya petani tembakau, dengan adanya kemarau panjang itu sangat senang sekali,” jelasnya.
Suyanto juga menyebut kualitas tembakau Tulungagung relatif unggul dibandingkan daerah lain. Sejumlah varietas dikembangkan petani, di antaranya Gagang Sidi dan Gagang Rejeb.
Dari sejumlah varietas tersebut, Gagang Sidi menjadi salah satu yang banyak ditanam petani di Tulungagung.
“Kalau kualitas secara umum, dibanding dengan kabupaten/kota lain, kita masih unggul. Kita punya varietas tembakau Gagang Rejeb dan Gagang Sidi. Tapi kalau di sini banyak yang Gagang Sidi,” ujarnya.
Potensi produksi juga terlihat di tingkat petani. Hendri Cahyono, Ketua Kelompok Tani Makmur Tulungagung di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, menyebut hasil tanaman dapat mencapai sekitar 3 ton daun basah per hektare apabila tanaman tumbuh tanpa gangguan penyakit.
“Kalau tidak ada penyakit layu Fusarium, 1 hektare itu bisa 3 ton daun basah,” kata Hendri.
Hendri mengatakan, Kelompok Tani Makmur Tulungagung saat ini mengelola sekitar 26 hektare lahan tembakau. Sementara itu, luas lahan tembakau di Desa Kendalbulur secara keseluruhan mencapai kurang lebih 112 hektare.
“Kalau di kelompok kami ada 26 hektare. Tapi untuk satu Desa Kendalbulur itu kurang lebih sekitar 112 hektare yang ditanami,” ungkapnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa tembakau masih menjadi salah satu komoditas yang dibudidayakan dalam luasan cukup besar di Tulungagung. Kondisi kemarau yang mendukung turut menjadi faktor yang dirasakan petani dalam proses budidaya tembakau tahun ini.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri