TULUNGAGUNG - Pendataan dugaan gangguan kesehatan di SMKN 1 Boyolangu terus berkembang. Hasil investigasi epidemiologi tim surveilans Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mencatat 189 siswa mengalami keluhan hingga pemantauan Sabtu (19/9).
Kepala Dinkes Tulungagung Desi Lusiana Wardhani mengatakan, 189 kasus tersebut merupakan siswa yang mengalami keluhan lebih dari tiga kali, baik disertai keluhan lain maupun tidak.
Dari jumlah tersebut, 22 kasus merupakan siswa laki-laki dan 167 kasus perempuan.
“Dari hasil investigasi tim surveilans kami, ditemukan total 189 kasus. Rinciannya, laki-laki 22 kasus dan perempuan 167 kasus,” jelas Desi.
Baca Juga: Sampel MBG SMKN 1 Boyolangu Tulungagung Diamankan, Dinkes Masih Telusuri Penyebab Siswa Sakit
Meski jumlah kasus bertambah dibandingkan pendataan sebelumnya, Dinkes belum menyimpulkan penyebab keluhan yang dialami para siswa. Pemeriksaan sampel makanan yang dikonsumsi siswa masih berlangsung.
Sampel menu makanan tanggal 15 dan 16 September telah diambil karena masih tersimpan di SPPG. Sampel tersebut kemudian dikirim untuk menjalani pemeriksaan di laboratorium Surabaya.
“Hasil pemeriksaan diperkirakan baru diterima sekitar 12 hari atau lebih dari satu pekan,” ungkapnya.
Investigasi juga dilakukan di SPPG Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu. Tim Dinkes mengecek sejumlah dokumen, termasuk standar operasional prosedur (SOP), serta kondisi lingkungan di lokasi tersebut.
Baca Juga: Lebih dari 100 Siswa SMKN 1 Boyolangu Tulungagung Keluhkan Sakit Perut Usai Terima MBG
Desi menyebut masih terdapat beberapa dokumen SOP yang perlu diperiksa lebih lanjut. Sementara itu, dokumen SLHS dan catatan perbaikan lingkungan telah diperiksa oleh tim kesehatan lingkungan.
Selain siswa, terdapat guru yang juga mengalami keluhan. Namun, Dinkes belum merinci jumlah maupun kondisi guru yang terdampak.
“Sampel dari guru juga turut diambil saat investigasi di sekolah,” imbuhnya.
Untuk memastikan perkembangan kasus, Dinkes melakukan pemantauan melalui puskesmas dan berkoordinasi dengan seluruh kepala puskesmas. Pendataan juga dilakukan melalui Google Form yang disebarkan kepada siswa.
Baca Juga: Supplier Soroti Pesanan Mendadak dan Pembayaran yang Terlambat dalam Program MBG
Hingga Jumat, belum ada laporan kasus baru maupun siswa SMKN 1 Boyolangu yang harus menjalani perawatan di puskesmas atau rumah sakit.
Dinkes tetap memperpanjang pemantauan hingga Sabtu. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada penambahan kasus setelah kejadian sebelumnya.
Desi juga mengimbau pengelola SPPG untuk disiplin menjalankan seluruh SOP yang telah ditetapkan. Sementara bagi penerima manfaat, siswa diminta mematuhi ketentuan waktu konsumsi makanan.
Jika menemukan makanan yang mencurigakan, seperti basi atau memiliki rasa berbeda, makanan tersebut diminta tidak dikonsumsi dan segera dilaporkan.
“Kalau menemukan hal-hal pada makanan yang mencurigakan, misalkan basi atau rasanya berbeda, tolong dilaporkan dan tidak usah dimakan,” tandasnya.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri