TULUNGAGUNG - Penyalahgunaan narkoba Tulungagung tidak hanya menyasar masyarakat dari kalangan ekonomi tertentu.
Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Tulungagung menyebut faktor pergaulan justru menjadi salah satu pintu masuk paling dominan seseorang mengenal dan kemudian terjerat narkotika.
Kepala BNNK Tulungagung Wasbeka Abie Yuwono menegaskan, anggapan bahwa narkoba identik dengan masyarakat ekonomi atas merupakan persepsi yang keliru. Penyalahguna narkotika dapat berasal dari berbagai latar belakang ekonomi.
“Kalau ditanya apakah penyalahgunaan narkoba dipengaruhi strata ekonomi, saya rasa tidak. Orang kaya maupun orang yang ekonominya kurang mampu sama-sama bisa menjadi penyalahguna. Begitu sudah terjerat, semuanya sama saja,” ujarnya.
Menurut Abie, lingkungan pertemanan kerap menjadi awal seseorang mengenal narkoba. Prosesnya bisa dimulai dari ajakan untuk mencoba hingga pemberian narkoba secara cuma-cuma kepada calon pengguna.
Cara tersebut membuat seseorang yang awalnya hanya penasaran bisa terus menggunakan narkoba. Penggunaan yang bermula dari ajakan teman kemudian dapat berkembang menjadi ketergantungan dan membuat pengguna kesulitan berhenti.
“Pemicunya memang pergaulan. Awalnya hanya diajak teman, dikenalkan, kemudian diberi gratis sampai akhirnya ketergantungan. Setelah itu, mereka mulai sulit berhenti,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pengawasan terhadap lingkungan pertemanan menjadi bagian penting dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. Orang tua tidak cukup hanya mengetahui aktivitas anak ketika berada di rumah.
Lingkungan pergaulan anak juga perlu diperhatikan. Sebab, pengaruh teman sebaya dapat menjadi pintu awal seseorang mengenal narkoba.
Abie juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap mencoba narkoba sekali tidak akan menimbulkan dampak.
Rasa penasaran justru dapat menjadi celah awal seseorang masuk dalam penyalahgunaan narkotika.
“Jangan berpikir narkoba hanya dipakai orang kaya. Banyak juga yang ekonominya pas-pasan, bahkan kemudian dimanfaatkan bandar. Jadi, siapa pun bisa menjadi korban kalau tidak bisa menjaga pergaulan,” imbuhnya.
Menurut dia, status ekonomi bukan jaminan seseorang terbebas dari risiko ketergantungan. Ketika sudah terjerat, kondisi pengguna dapat berubah dan bahkan berdampak pada kehidupan ekonominya.
Narkoba, lanjut Abie, justru dapat menghancurkan kondisi ekonomi pengguna ketika sudah mengalami ketergantungan. Penghasilan yang dimiliki bisa habis untuk memenuhi kebutuhan narkoba.
Dalam kondisi tertentu, pengguna juga dapat dimanfaatkan jaringan peredaran sebagai kurir untuk mendapatkan barang yang diinginkan.
Karena itu, persoalan penyalahgunaan narkotika tidak berhenti pada faktor ekonomi seseorang.
“Begitu sudah terjerat, status ekonomi tidak lagi menjadi pembeda. Semuanya bisa mengalami ketergantungan. Karena itu, pencegahan yang paling penting adalah jangan pernah mencoba, sekalipun hanya karena ajakan teman,” pungkasnya.
BNNK Tulungagung mendorong pencegahan dilakukan secara berlapis. Upaya tersebut mencakup keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.
Edukasi mengenai bahaya narkoba juga perlu diperkuat agar anak muda memiliki keberanian untuk menolak ajakan mencoba.
Masyarakat pun diminta tidak menutup mata ketika menemukan indikasi penyalahgunaan narkotika di lingkungan sekitar.
Konsultasi dan penanganan sejak dini dinilai lebih baik sebelum penggunaan berkembang menjadi ketergantungan atau berujung pada persoalan hukum.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri