RADAR TULUNGAGUNG – Pusaka Tombak Kyai Sapu Jagad menjadi bahan kajian dalam Sarasehan Budaya yang digelar PPAL Tulungagung bersama Forum Sarasehan Budaya Daerah (Forsabda). Kegiatan bertema Implementasi Nilai-Nilai Pusaka Tombak Kyai Sapu Jagad dalam Kehidupan Saat Ini tersebut berlangsung di Lotu’s Garden, Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Jumat (18/9) malam.
Sarasehan tersebut menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang. Yakni budayawan sekaligus abdi dalem Keraton Yogyakarta Agus Utomo, budayawan Tulungagung Agus Timur, serta akademisi Dr. Akhol Firdaus. Hadir pula Camat Kedungwaru Eko Hery Susanto dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung M Ardian Candra.
Sejumlah tamu undangan turut mengikuti kegiatan tersebut. Di antaranya kerabat PB XIV dari Solo, GKR Sekar Arum dan KP P. Mulyatno Prawiro Diningrat SH. Selain itu, anggota PPAL Tulungagung serta perwakilan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) juga hadir dalam sarasehan tersebut.
Tak hanya sarasehan, acara tersebut juga menampilkan fragmen ketoprak dengan lakon sesuai tema yang membuat suasana hangat dan guyub semakin terlihat. Ketoprak tersebut juga menjadi hiburan sekaligus penggambaran terhadap cerita tombak kyai sapu jagat yang dikemas dengan bahasa kekinian dan agak humoris.
Dewan Pembina PPAL dan Forsabda, Laksda TNI (Purn) Harry Yuwono, mengatakan pembahasan Tombak Kyai Sapu Jagad perlu ditempatkan dalam kajian sejarah dan budaya yang lebih mendalam. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kisah tombak tersebut yang dikaitkan dengan perjalanan Ki Ageng Mangir ketika hendak menghadap Panembahan Senopati, Raja Mataram.
Menurut Harry Yuwono, dalam perkembangannya muncul berbagai versi mengenai keterkaitan Tombak Kyai Sapu Jagad dengan pusaka yang kemudian dikenal sebagai Tombak Kyai Upas di Tulungagung. Karena itu, diperlukan forum khusus yang dapat mengkaji riwayat dan asal-usul pusaka tersebut secara lebih komprehensif.
“Jadi saya hanya mengambil cuplikan Tombak Kyai Sapu Jagad atau Baru Klinting saat dibawa oleh Ki Ageng Mangir yang akan sowan ke Panembahan Senopati, Raja Mataram,” jelas Harry.
Dia menyebut, respons terhadap pembahasan tersebut kemudian berkembang cukup luas. Karena itu, dia mendorong agar kajian tidak berhenti pada sarasehan, tetapi dilanjutkan oleh tim perumus dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kompetensi di bidang sejarah dan budaya.
“Coba itu dibawa ke dalam suatu forum, dikaji lebih lanjut oleh tim perumus. Sehingga nanti Tombak Kyai Upas itu sendiri, saya sebenarnya tidak ke situ larinya, akan lebih terang. Ini tombak dari mana dan seterusnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Kedungwaru Eko Hery Susanto mengapresiasi pelaksanaan sarasehan tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini penting untuk kembali mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap sejarah dan budaya daerah.
“Jadi saya mengapresiasi acara pada malam hari ini, yaitu sarasehan yang dipimpin oleh Laksamana Bapak Harry Yuwono. Tentunya kegiatan ini merefresh kembali generasi muda yang saat ini agar senantiasa mengingat sejarah,” ujarnya.
Camat Eko berharap kegiatan sarasehan budaya tidak berhenti pada satu momentum. Dia mendorong agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan mendapatkan perhatian dari berbagai pihak.
“Harapan saya kegiatan ini tidak hanya sampai saat ini saja. Ke depan bisa terus ada dan berjalan dengan lancar, serta selalu mendapatkan perhatian, baik dari pemerhati budaya maupun pemerintah daerah sendiri,” tuturnya.
Harry menambahkan, sarasehan tersebut setidaknya telah mencapai tujuan awal, yakni membuka ruang dialog mengenai sejarah dan nilai budaya yang terkandung dalam pusaka tersebut. Menurut dia, kejelasan sejarah menjadi penting agar keberadaan pusaka tidak hanya dipandang sebagai benda warisan, tetapi juga memiliki konteks sejarah dan budaya yang dapat dipahami generasi sekarang.
Terlebih, Tombak Kyai Upas selama ini telah menjadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Tulungagung. Karena itu, menurut Harry, kini telah terbuka ruang untuk mendorong pengkajian lebih lanjut mengenai status dan perlindungannya sebagai warisan budaya daerah.
“Namanya budaya, supaya ada kejelasan. Mau tidak mau, kalau yang di Tulungagung, yang saya amati, Tombak Kyai Upas itu sudah milik masyarakat, aset daerah,” pungkasnya. (sri)
Editor : Sandy Sri Yuwana