TULUNGAGUNG - Pemantauan dugaan gangguan kesehatan di SMKN 1 Boyolangu telah selesai pada Sabtu (19/9). Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung tidak menemukan tambahan kasus, tetapi penyebab kejadian belum dapat dipastikan karena pemeriksaan sampel makanan dari SPPG Tanjungsari masih berlangsung.
Kepala Dinkes Tulungagung Desi Lusiana Wardhani mengatakan, surveilans dilakukan sesuai prosedur dan berakhir pada Sabtu. Hasil pemantauan menunjukkan tidak ada penambahan kasus baru setelah kejadian yang sebelumnya membuat ratusan siswa mengalami keluhan kesehatan.
“Surveilans sudah selesai dan tidak ada penambahan kasus. Sesuai aturan, pemantauan terakhir dilakukan Sabtu (19/9), dan tidak ditemukan penambahan kasus,” ujar Desi saat dikonfirmasi, Minggu (20/9).
Berdasarkan hasil investigasi tim surveilans, tercatat 189 kasus siswa dengan keluhan kesehatan. Rinciannya terdiri atas 22 siswa laki-laki dan 167 siswa perempuan.
Baca Juga: Sampel MBG SMKN 1 Boyolangu Tulungagung Diamankan, Dinkes Masih Telusuri Penyebab Siswa Sakit
Selain siswa, terdapat pula guru yang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan. Namun, berakhirnya masa pemantauan tidak serta-merta membuat penyebab kejadian dapat dipastikan.
Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan yang sebelumnya diambil dari SPPG Tanjungsari. Pemeriksaan membutuhkan waktu sehingga hasilnya diperkirakan baru dapat diketahui sekitar satu minggu ke depan.
Sampel tersebut menjadi salah satu bahan penting dalam proses evaluasi. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat kondisi makanan yang dikonsumsi sebelum munculnya keluhan kesehatan.
Karena proses pemeriksaan masih berjalan, Dinkes belum menarik kesimpulan mengenai penyebab kejadian. Tidak adanya tambahan kasus hingga surveilans berakhir juga tidak menjadi dasar untuk langsung menetapkan penyebab gangguan kesehatan.
Baca Juga: Lebih dari 100 Siswa SMKN 1 Boyolangu Tulungagung Keluhkan Sakit Perut Usai Terima MBG
Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat memberikan informasi tambahan dalam proses evaluasi. Dengan begitu, penanganan tidak hanya berhenti pada pencatatan jumlah kasus, tetapi juga dapat menjadi bahan perbaikan pengelolaan makanan.
Di sisi lain, Dinkes meminta pengelola SPPG tidak mengendurkan pengawasan terhadap setiap tahapan penyediaan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Seluruh proses penyediaan makanan diminta tetap dijalankan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Pengawasan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan makanan yang diterima penerima manfaat berada dalam kondisi yang sesuai.
Dinkes juga mengingatkan penerima manfaat agar segera mengonsumsi makanan setelah diterima sesuai waktu yang ditentukan. Makanan tidak seharusnya dibiarkan terlalu lama sebelum dikonsumsi.
Baca Juga: Supplier Soroti Pesanan Mendadak dan Pembayaran yang Terlambat dalam Program MBG
Siswa juga diminta memperhatikan kondisi makanan sebelum menyantapnya. Jika ditemukan makanan yang berbau, terasa berbeda, basi, atau menunjukkan perubahan lain yang mencurigakan, makanan tersebut diminta tidak dikonsumsi.
“Kalau menemukan hal-hal pada makanan yang sekiranya mencurigakan, misalkan basi atau rasanya berbeda, tolong dilaporkan dan tidak usah dimakan,” tegas Desi.
Dengan surveilans SMKN 1 Boyolangu yang telah selesai, perhatian selanjutnya tertuju pada hasil pemeriksaan sampel makanan. Kepastian hasil pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mendukung proses evaluasi terhadap kejadian yang menyebabkan 189 siswa mengalami keluhan kesehatan.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri