Irigasi Tulungagung Jadi Perhatian Petani, Kemarau Ancam Produktivitas Lahan

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 09:13 WIB

Salah satu petani 
menyemprot 
benih padi yang 
baru disemai di 
persawahan Desa 
Wajak Lor, Kecamatan 
Boyolangu.(SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)

Salah satu petani menyemprot benih padi yang baru disemai di persawahan Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu.(SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)

TULUNGAGUNG - Ketersediaan pupuk dan harga gabah mulai memberi napas lega bagi petani Tulungagung.

Namun, memasuki musim kemarau, persoalan air dan kondisi jaringan irigasi Tulungagung kembali menjadi kendala yang perlu mendapat perhatian.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Tulungagung Tatang Suhartono mengatakan, kondisi petani saat ini relatif lebih baik dari sisi pupuk maupun harga gabah.

Harga gabah kering sawah yang mencapai Rp6.500 per kilogram dinilai cukup menguntungkan petani.

“Sekarang kami sudah tidak pernah merasakan kesusahan pupuk seperti dulu. Kemudian, pemerintah juga memberikan harga gabah kering sawah Rp6.500. Itu bagus sekali, petani merasa sangat diuntungkan,” ujarnya.

Baca Juga: Pengelolaan Lahan Pertanian di Pucanglaban Tulungagung Didorong Lebih Produktif dan Berkelanjutan

Meski demikian, Tatang menyebut persoalan air justru menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian lebih serius. Saat kemarau, debit air di sejumlah jaringan irigasi mengalami penurunan.

Kondisi tersebut semakin berat karena masih terdapat saluran yang kotor dan mengalami kebocoran. Air yang tersedia akhirnya tidak seluruhnya dapat mengalir hingga ke lahan pertanian.

“Kami berharap pemerintah bisa membantu revitalisasi jaringan irigasi. Ketika air sedikit, jaringan yang kotor dan bocor akan membuat air yang hilang semakin banyak,” jelasnya.

Menurut Tatang, masalah air bukan hanya berkaitan dengan berkurangnya debit saat kemarau. Kondisi infrastruktur irigasi yang tidak optimal juga membuat pasokan air yang tersedia tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh petani.

Jika pasokan air tidak mencukupi, petani berpotensi mengurangi frekuensi tanam. Bahkan, sebagian lahan dapat dibiarkan tidak produktif ketika kebutuhan air untuk pertanian tidak terpenuhi.

Baca Juga: Varietas Tembakau Tulungagung, Ada Gagang Sidi dan Gagang Rejeb yang Banyak Dikembangkan Petani

Tatang menilai optimalisasi sumber air dapat menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan indeks pertanaman.

Lahan yang sebelumnya hanya mampu ditanami padi sekali dalam setahun berpeluang ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali tanam.

“Yang tadinya hanya sekali tanam padi, bisa dua kali. Yang tadinya tidak bisa menanam, dengan adanya pompa bisa menanam. Ini selain meningkatkan kesejahteraan petani juga membantu pemerintah dalam penguatan ketahanan pangan,” terangnya.

Karena itu, penanganan persoalan air dinilai tidak cukup hanya mengandalkan jaringan irigasi yang sudah ada.

Tatang mendorong pemerintah mengoptimalkan sumber air melalui pompanisasi, embung, hingga pembangunan bendungan kecil.

Sejumlah wilayah dinilai masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Di antaranya Pucanglaban, bagian timur Rejotangan, serta sebagian wilayah Kauman dan Karangrejo.

Persoalan air juga menjadi semakin penting karena sektor pertanian Tulungagung tidak hanya bergantung pada tanaman pangan.

Baca Juga: Jaga Ketahanan Pangan, Tulungagung Pertahankan 16.296 Hektare Kawasan Pertanian agar Tak Beralih Fungsi

Pengembangan komoditas hortikultura terus tumbuh, mulai melon, cabai, semangka, hingga komoditas lainnya.

Pengembangan tersebut juga mulai dilakukan anak muda dengan sistem greenhouse. Menurut Tatang, kondisi itu menunjukkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian masih terbuka.

Namun, tantangan bagi petani tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Akses pasar juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan agar hasil produksi dapat terserap dengan baik.

“Jangan sampai ketika mereka sudah produksi kemudian bingung pasar. Saat panen raya, jangan sampai harga jatuh. Untuk persoalan ini, kami memang tidak bisa berdiri sendiri sehingga membutuhkan dukungan pemerintah,” pungkasnya.

Dengan kondisi tersebut, perbaikan irigasi Tulungagung menjadi salah satu kebutuhan yang dinilai penting untuk menjaga produktivitas lahan, terutama ketika pasokan air berkurang pada musim kemarau.(sri)

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
irigasi tulungagung pertanian tulungagung Petani tulungagung musim kemarau harga gabah