Dari Wayang Jemblung, Golkar Tulungagung Tekankan Pentingnya Regenerasi Seniman

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 18:36 WIB
Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Tulungagung Jairi Irawan saat memberi sambutan pada pergelaran wayang Jemblung, Sabtu (19/9).
Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Tulungagung Jairi Irawan saat memberi sambutan pada pergelaran wayang Jemblung, Sabtu (19/9).

 

RADAR TULUNGAGUNG – Panggung kesenian boleh tetap berdiri. Pertunjukan Wayang Jemblung, Jaranan hingga Ketoprak juga bisa terus digelar. Namun, ada persoalan yang jauh lebih mendasar di balik keberlangsungan kesenian tradisional Tulungagung: siapa yang akan meneruskannya?

 

Pesan tersebut disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Tulungagung sekaligus Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Jairi Irawan, S.Hum., M.Kp., saat pagelaran Wayang Jemblung di halaman Kantor DPD Partai Golkar Tulungagung, Sabtu (19/9) malam.

 

Menurut Jairi, pelestarian budaya tidak cukup hanya memastikan pertunjukan tetap berlangsung. Regenerasi pelaku seni harus menjadi perhatian bersama. Sebab, sejumlah kesenian tradisional saat ini masih banyak ditopang seniman yang telah berusia lanjut.

 

“Jangan sampai kita masih memiliki panggung, tetapi tidak memiliki generasi yang akan naik ke panggung itu,” tegasnya.

 

Karena itu, Jairi mendorong Pemkab Tulungagung menyediakan lebih banyak ruang publik bagi aktivitas seni dan budaya. Salah satu gagasannya adalah menetapkan ruas jalan atau kawasan tertentu sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan seniman untuk berkumpul, berlatih, maupun tampil.

 

“Kalau ingin kesenian hidup, senimannya harus diberikan ruang,” ujarnya.

 

Menurutnya, keberadaan ruang publik seni tidak hanya memberi kesempatan seniman berekspresi. Ruang tersebut juga dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal kesenian tradisional secara langsung. Pemerintah, kata Jairi, diharapkan tidak hanya hadir saat festival atau kegiatan seremonial, tetapi ikut membangun ekosistem agar kesenian bisa terus tumbuh.

 

Upaya serupa juga dilakukan DPD Partai Golkar Tulungagung. Jairi menyebut pihaknya rutin menggelar pertunjukan seni setiap tiga bulan. Kegiatan diawali Hadrah pada Maret, Jaranan pada Juni, Wayang Jemblung pada September, dan direncanakan dilanjutkan dengan kesenian lainnya pada Desember.

 

Tak hanya menjadi lokasi kegiatan politik, Jairi mengatakan Kantor DPD Partai Golkar Tulungagung diarahkan memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Yakni sebagai rumah aspirasi, pusat informasi, sekaligus ruang ekspresi masyarakat.

 

Komunitas seni, lanjut dia, dapat memanfaatkan fasilitas tersebut secara gratis untuk latihan maupun pementasan. Dengan demikian, fasilitas yang ada diharapkan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

 

Pagelaran Wayang Jemblung malam itu turut dihadiri Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, perwakilan Fraksi Golkar DPRD Tulungagung Asrori, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata M Ardian Candra, perwakilan MN KAHMI Suroyo, insan pers, serta para seniman.

 

Baharudin mengapresiasi pagelaran tersebut. Menurutnya, kesenian tradisional tidak sebatas hiburan. Di dalamnya terdapat nilai pendidikan, pesan moral, sekaligus gambaran kehidupan masyarakat.

 

Kelompok seniman malam itu membawakan lakon “Damarwulan Ngawulo”. Baharudin mengaitkan lakon tersebut dengan nilai pengabdian. Kata ngawulo, menurutnya, mengandung pesan bahwa seseorang yang mendapatkan amanah harus bersedia mengabdikan diri kepada masyarakat.

 

“Lakon seperti ini bukan hanya untuk ditonton. Ada nilai yang bisa kita ambil tentang pengabdian,” tuturnya.

 

Di tengah masyarakat yang semakin beragam pandangan, Jairi juga melihat kesenian dapat menjadi ruang pertemuan. Seni, menurut dia, memiliki kemampuan untuk “menghaluskan hati”.

 

Pesan itu kemudian hadir melalui tembang “Pepeling” yang dibawakan Ki Muselam atas permintaan Jairi. Tembang tersebut membawa pesan moral dan spiritual mengenai rukun Islam.

 

Dari panggung Wayang Jemblung itu, persoalan kesenian Tulungagung akhirnya tidak berhenti pada satu malam pertunjukan. Tantangannya lebih panjang: menyediakan ruang, menarik minat generasi muda, sekaligus memastikan tradisi tetap memiliki penerus.

 

Sebab, melestarikan budaya bukan hanya soal seberapa sering sebuah pertunjukan digelar. Lebih jauh, adalah memastikan masih ada generasi yang bersedia naik ke panggung ketika para pelaku seni hari ini tak lagi mampu melakukannya.

 

Editor : Sandy Sri Yuwana
wayang jemblung tulungagung golkar Jairi Irawan