11 Ribu Petani Milenial Tulungagung Disiapkan Jadi Pengusaha Agribisnis

Rahiiq Al Bachri • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 12:10 WIB
Petani muda Tulungagung didorong tidak hanya menggeluti budi daya, tetapi juga mengembangkan usaha dan pemasaran hasil pertanian.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)
Petani muda Tulungagung didorong tidak hanya menggeluti budi daya, tetapi juga mengembangkan usaha dan pemasaran hasil pertanian.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)

TULUNGAGUNG - Regenerasi petani menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan sektor pertanian di Tulungagung. Tidak hanya disiapkan untuk turun ke lahan, generasi muda juga diarahkan agar mampu mengembangkan pertanian sebagai usaha dan profesi yang memiliki peluang ekonomi.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung Suyanto mengatakan, sekitar 11 ribu petani milenial telah dicetak melalui program yang dijalankan. Mereka tidak hanya mendapat pemahaman mengenai bercocok tanam, tetapi juga dibekali pengetahuan untuk mengembangkan usaha hingga memasarkan hasil pertanian.

“Jadi, kita sudah mencetak sekitar 11 ribu petani milenial di Tulungagung atau petani muda. Kita didik anak-anak muda itu supaya senang dengan bertani. Tetapi, bertani di sini bukan hanya bertani saja. Mereka juga dididik untuk berusaha,” ujarnya.

Menurut Suyanto, pendekatan tersebut diperlukan agar petani muda memiliki kemampuan yang lebih luas. Mereka diharapkan tidak berhenti pada proses produksi, tetapi memahami bagaimana hasil pertanian dikembangkan menjadi kegiatan usaha.

Baca Juga: Akses Pasar Petani Hortikultura, Ini Tantangan setelah Melon, Cabai, dan Semangka Dipanen

“Tidak hanya bercocok tanam saja, tetapi sampai penjualannya. Kemudian beternak juga. Jadi, kita didik semacam itu untuk usahanya juga, menjadi pengusaha agribisnis,” jelasnya.

Pengembangan usaha petani muda di Tulungagung mulai dilakukan di sejumlah wilayah dengan bidang yang beragam. Salah satunya kelompok di Desa Ngunggahan, Kecamatan Bandung, yang mengembangkan usaha telur asin.

Selain itu, terdapat petani muda yang mengembangkan produksi kambing dan susu serta pertanian terintegrasi. Aktivitas tersebut menunjukkan pengembangan usaha generasi muda di sektor pertanian tidak hanya berfokus pada tanaman pangan.

Peternakan, pengolahan hasil pertanian, hingga pemasaran juga mulai menjadi bagian dari pengembangan usaha. Dengan pola tersebut, aktivitas pertanian diarahkan menjadi rangkaian usaha yang tidak berhenti pada proses produksi.

Baca Juga: Bagaimana Petani Menghadapi Kemarau agar Lahan Tetap Produktif? Kenali Pompanisasi hingga Embung

Para petani muda juga mendapat pelatihan dan bimbingan teknis. Kegiatan tersebut diberikan untuk memperkenalkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat menunjang mereka sebagai petani sekaligus pelaku usaha.

“Untuk teknologi, kita memberikan semacam diklat atau bimtek kepada mereka dalam kurun waktu tertentu. Harapannya, selain menjadi petani, mereka juga menjadi pengusaha agribisnis,” tuturnya.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari regenerasi petani. Suyanto mengatakan kebutuhan terhadap generasi penerus semakin penting karena sebagian petani saat ini telah berusia lanjut.

“Petani milenial ini dibentuk terutama untuk regenerasi petani karena banyak petani yang saat ini berusia lanjut. Harapannya ada generasi penerus untuk pertanian,” katanya.

Generasi muda juga mulai diperkenalkan dengan pola pertanian modern. Suyanto menyebut sebagian anak muda secara mandiri telah mengembangkan greenhouse, budi daya melon, hingga hidroponik.

Baca Juga: Dua Kali Gagal Tanam Cabai, Petani Muda Tulungagung Ini Bangkit dan Berhasil

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan pertanian dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih modern. Pengetahuan dan inovasi diperlukan agar generasi muda dapat mengikuti perkembangan teknologi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari kegiatan pertanian.

“Kalau pertanian digeluti secara serius, sebenarnya akan memberikan keuntungan. Makanya, mereka harus terus memperbarui pengetahuan dan melakukan inovasi,” ungkap mantan Camat Ngantru ini.

Pembentukan petani milenial tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Program tersebut juga ditujukan untuk mendorong wirausaha dan hilirisasi hasil pertanian.

Generasi muda diharapkan mampu melihat pertanian sebagai rangkaian usaha dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, regenerasi petani tidak sekadar memastikan adanya penerus di sektor pertanian, tetapi juga mendorong munculnya pelaku agribisnis yang mampu mengembangkan usaha secara lebih modern.

“Tujuannya mencetak generasi penerus pertanian yang modern, produktif, inovatif, dan berorientasi bisnis. Kemudian meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, mendorong wirausaha, dan hilirisasi hasil pertanian,” pungkasnya.(bac)

Editor : Vidya Sajar Fitri
regenerasi petani petani milenial tulungagung pertanian tulungagung agribisnis petani muda