TULUNGAGUNG - Luas area tanam tebu di Tulungagung mengalami peningkatan pada 2026. Dari sekitar 3.862 hektare pada musim giling 2025, luas areal tebu bertambah menjadi 4.069 hektare atau naik sekitar 207 hektare.
Perluasan areal tersebut berjalan bersamaan dengan program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu yang produktivitasnya mulai menurun. Tanaman lama diganti dengan bibit unggul agar hasil panen dan rendemen gula dapat ditingkatkan.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung Suyanto mengatakan, peremajaan menjadi salah satu langkah untuk memperbaiki produktivitas tanaman tebu di daerah. Program tersebut diarahkan untuk mengganti tanaman lama dengan bibit unggul bermutu tinggi.
“Kita melakukan peremajaan total menggunakan bibit unggul bermutu tinggi agar ke depan hasil panen dan rendemen gula kita meningkat secara signifikan,” ujarnya.
Data Dispertan Tulungagung mencatat luas areal tanaman tebu pada musim giling 2025 mencapai sekitar 3.862 hektare. Dari luasan tersebut, produksi tebu basah tercatat mencapai 369.979,60 ton.
Memasuki musim giling 2026, luas areal tanam meningkat menjadi 4.069 hektare. Dengan demikian, terdapat tambahan sekitar 207 hektare dibandingkan luasan pada musim giling sebelumnya.
“Pada musim giling 2026, terjadi peningkatan luas areal tanam menjadi 4.069 hektare,” terang Suyanto.
Selain perluasan lahan, pemerintah juga menjalankan program bongkar ratoon. Hingga 2026, capaian program tersebut tercatat seluas 151,48 hektare.
“Pada 2026, capaian program bongkar ratoon seluas 151,48 hektare dan perluasan areal tanam mencapai 207,3 hektare,” lanjutnya.
Baca Juga: Pengelolaan Lahan Pertanian di Pucanglaban Tulungagung Didorong Lebih Produktif dan Berkelanjutan
Program bongkar ratoon dilakukan karena tanaman tebu yang telah berumur tua dinilai mengalami penurunan produksi. Peremajaan diharapkan membuat lahan kembali menghasilkan tanaman tebu dengan produktivitas lebih tinggi.
Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharuddin mengatakan, tebu memiliki posisi penting bagi perekonomian daerah. Komoditas tersebut juga berkaitan dengan upaya mencapai target swasembada gula nasional.
“Tebu merupakan salah satu sektor penopang perekonomian daerah kita sekaligus pilar penting dalam mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu swasembada gula nasional,” katanya.
Menurut Ahmad, bongkar ratoon tidak hanya berkaitan dengan penggantian tanaman lama. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengubah pola budi daya sehingga produktivitas tebu dapat meningkat.
“Kita menyadari bahwa banyak lahan tebu kita yang tanaman ratoon-nya sudah berumur tua dan mengalami penurunan produksi,” ujarnya.
Dari sisi industri, PG Modjopanggoong turut mendorong pelaksanaan program tersebut. General Manager PG Modjopanggoong Agus Budi Juwono menyebut pihaknya menargetkan bongkar ratoon sekitar 500 hektare di Tulungagung pada 2026.
“Untuk program bongkar ratoon di Tulungagung, kami sekitar 500 hektare dulu untuk tahun ini. Insya Allah tercapai, dan nanti 2027 ada tambahan lagi sekitar 400 hektare,” ungkapnya.
Program bongkar ratoon diharapkan tidak berhenti pada penggantian tanaman. Peremajaan tanaman juga ditargetkan memberikan dampak terhadap produktivitas tebu petani sekaligus memperkuat pasokan bahan baku bagi pabrik gula.
PG Modjopanggoong juga mengembangkan program serupa di wilayah sekitar, yakni Kabupaten Blitar dan Trenggalek. Program bongkar ratoon tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan tebu sekaligus mendukung target swasembada gula nasional.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri