Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tolak Dakwah Ba’alawi, Aliansi Masyarakat Tulungagung Turun ke Jalan

Redaksi Radar Tulungagung • Minggu, 15 Desember 2024 | 04:02 WIB
Massa membentangkan spanduk penolakan klan Ba’alawi di depan gedung DPRD Tulungagung, kemarin (13/12). (YOGA DANY DAMARA/RADAR TULUNGAGUNG)
Massa membentangkan spanduk penolakan klan Ba’alawi di depan gedung DPRD Tulungagung, kemarin (13/12). (YOGA DANY DAMARA/RADAR TULUNGAGUNG)

Tulungagung - Ratusan warga Tulungagung yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Tulungagung (AMT) menggelar aksi damai menolak dakwah ulama Ba'lawi di Tulungagung, kemarin (13/12).

Mereka menganggap bahwa dakwah yang dilakukan ulama Ba'alawi merusak akidah dan provokatif melawan pemerintah.

Koordinator lapangan (korlap) aksi damai menolak dakwah ulama Ba'lawi di Tulungagung, Mochammad Hamin Dhiyauddin, mengatakan bahwa pihaknya hari ini menggelar aksi damai dengan tema “Merajut Kebersamaan, Merajut Persatuan”.

Aksi damai yang dilakukan AMT ini dilakukan dalam rangka menolak dakwah ulama Ba'alawi di Kota Marmer.

Alasannya, dakwah ulama Ba’lawi yang dilakukan di Tulungagung selalu meresahkan karena kerap membelokkan sejarah maupun akidah umat Islam.

Hal ini tentunya membuat hasil dakwah tersebut tertanam dalam diri masyarakat yang menjadi jemaah mereka.

"Dakwah mereka ini dipenuhi klaim, terutama tokoh-tokoh sejarah yang dikaitkan dengan ulama Ba'alawi, padahal kenyataannya tidak.

Apalagi, dakwah mereka juga cenderung provokatif dan melawan pemerintah," katanya.

Atas penolakan ini, ungkap Hamin, secara terang-terangan menutup pintu kehadiran ulama Ba'alawi yang ingin berdakwah di Tulungagung.

Bahkan termasuk Habib Syekh bin Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf yang dalam waktu dekat seharusnya melakukan dakwah di Tulungagung juga ditolak.

Meski ditolak, sebenarnya pihaknya tetap menghargai ilmu agama yang dimiliki ulama Ba'alawi.

Namun, pihaknya menyayangkan jika dakwah itu disisipi dengan pembelokan sejarah.

Terlebih lagi bagi ulama Ba'alawi yang terang-terangan melawan pemerintah melalui dakwah yang cenderung provokatif.

"Kami hargai keilmuan mereka soal agama, tetapi kami menolak dakwah mereka dengan mengeklaim tokoh-tokoh sejarah di Indonesia ini berkaitan dengan Ba'alawi yang berasal dari Yaman," ungkapnya.

Hamin menyebut, indikasi pembelokan sejarah atas dakwah ulama Ba'alawi ini juga sudah ada di Tulungagung, seperti pada makam tokoh di Sambijajar, lalu tokoh di Gunung Budheg yakni Jaka Budheg, dan beberapa tokoh lain yang diklaim juga berkaitan dengan Ba'alawi atau berasal dari Yaman, padahal kenyataannya bukan.

Hamin, meminta aparat pemerintahan di Tulungagung juga turut mengawal permasalahan ini dengan tidak memperbolehkan ulama Ba'alawi datang ke Bumi Lawadan.

Bahkan, pihaknya mengancam akan melakukan sweeping jika pemerintah tutup mata dengan memperbolehkan kedatangan mereka.

"Saat ini, kami tidak lakukan sweeping terlebih dahulu, dan menyarankan pemerintah untuk menutup pintu atas kedatangan ulama Ba'alawi. Tetapi kalau memang tidak diindahkan, kami akan bergerak sendiri untuk melakukan sweeping," pungkasnya.(*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#aksi damai #Baalawi #dakwah