Masa peralihan musim penghujan ke kemarau diprediksi terjadi pada Mei mendatang. Itu artinya, masyarakat harus waspada potensi munculnya penyakit dalam dua bulan ke depan. Utamanya demam berdarah dengue (DBD).
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG Karangkates, Andang Kurniawan menerangkan, hujan dengan intensitas tinggi diprediksi akan terjadi hingga akhir bulan ini. Peningkatan intensitas hujan akan berlangsung secara berkala.
"Mungkin dalam beberapa hari ke depan deras tapi tidak terlalu deras. Tapi di akhir bulan nanti kemungkinan lebih deras," jelasnya.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Mendera Seluruh Jawa Timur Hingga Akhir Februari, BMKG Juanda Bilang Begini
Ada berbagai dampak yang ditimbulkan selama berlangsungnya musim penghujan. Mulai dari munculnya genangan air di dataran rendah hingga berbagai gangguan kesehatan di masyarakat. Kondisi ini terjadi akibat tingginya tingkat kelembaban udara.
"Kalau kaitannya dengan potensi yang dapat terjadi itu hujan-hujan lokal yang dapat mengakibatkan genangan sesaat. Terus kaitanya dengan kondisi seperti ini kan kelembabannya tinggi. Masyarakat perlu mewaspadai demam berdarah," terangnya.
Patut diingat, potensi munculnya hujan dengan intensitas tinggi besar kemungkinan masih akan terjadi selama 1-2 bulan ke depan. Artinya, peningkatan kasus DBD juga patut jadi perhatian khusus, baik oleh pemerintah maupun masyarakat umum.
Dia mengungkapkan, masa peralihan musim di wilayah Tulungagung terjadi pada akhir April atau pertengan Mei. Wilayah selatan bakal mengalami peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau terlebih dahulu. Lalu, berangsur-angsur ke wilayah tengah dan utara.
Baca Juga: Berawan Tebal hingga Hujan Petir, Begini Prakiraan Cuaca di Pesisir Selatan Tulungagung Hari Ini
"Karena kalau kondisinya seperti ini, tumbuh kembang nyamuk itu jauh lebih mudah. Ada hujan dan anginnya tidak terlalu kencang. Itu kan uap airnya tidak kemana-mana. Jadi kelembabannya tinggi," ujar Andang.
Dia mengimbau agar masyarakat lebih mawas pad kondisi lingkungan dan kesehatan keluarga. Tujuannya tentu untuk meminimalkan risiko penyebaran penyakit DBD atau bencana hidrometrologi.
"Tentu saja yang utama karena kondisi angin kelembaban tinggi itu kaitannya dengan DPD lalu dengan hujan yang sifatnya cenderung sesaat deras," tegasnya.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra