Boyongan Ndalem Keprabon Bupati Tulungagung digelar di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa, Jumat (7/3) malam. Ada berbagai makna mendalam yang diusung dalam agenda ini.
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo mengungkapkan, pemilihan hari tasyakuran boyongan bupati Tulungagung masa jabatan 2025-2030 ini tidak dilakuakan secara sembarang.
“Hari ini saya melakukan boyongan dari rumah Gandong ke Pendapa di Tulungagung, Saya mencari hari ini adalah hari yang terbaik menurut keluarga kami. Hari ini kalau orang Mataraman (mengatakan, Red) tibo kukuh,” bebernya.
Kukuh, lanjut Gatut, bermakna kokoh. Ini menandakan keinginan pemkab untuk menjadi penopang yang kokoh dalam pemerintahan. Yakni, dengan cara bersinergi dengan seluruh jajaran di lingkup pemkab.
“Insya Allah nanti ke depan kami bisa bersinergi dengan semua OPD, staf-stafnya, biar kokoh untuk membangun Tulungagung,” kata dia.
Dia mengaku menerima instruksi khusus dari gubernur untuk meningkatkan sinergitas pemkab dengan pemprov. Hal ini bertujuan untuk memastikan program yang dicanangkan di tingkat pusat bisa direalisasi secara paripurna di tingkat daerah.
“Intinya bahwa pemerintah daerah harus bersinergi dengan pemprov, sesuai asta cita Pak Prabowo,” ucapnya.
Ketua Panitia Boyongan Ndalem Keprabon Bupati Tulungagung, Fuad Saiful Anam menerangkan, agenda ini merupakan salah satu bentuk menjaga tradisi dan budaya Jawa.
“Ini dalam rangka nguri-uri budaya leluhur ya. Jadi orang Jawa masih punya ada seperti ini lihat banyak sekali tanda-tanda atau pralampito itu bagian dari doa sebenarnya,” paparnya.
Ada banyak makna ddi rangkaian prosesi boyongan. Mulai dari pemilihan waktu, pemilihan barang-barang yang dibawa boyongan, hingga pemilihan atau penggunaan setelan Gatut Sunu.
“Orang Jawa yang menggunakan budaya Jawa. Kalau tujuannya jelas untuk keselamatan, ketentraman kebahagiaan, dan kesuksesan dalam pemerintah. Maknanya kita ingat kepada Allah bahwa apapun yang kita miliki adalah pemberian-Nya,” ujar Fuad.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra