Pagerwojo, Radar Tulungagung - Sampah yang selama ini dianggap kotor dan menjijikkan ternyata bisa menjadi berkah ekonomi bagi masyarakat.
Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang baik tidak hanya menciptakan lingkungan bersih, tetapi juga membuka peluang usaha.
Berkat inovasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), desa ini berhasil mengubah sampah menjadi sumber manfaat bagi warganya.
Kepala Desa Samar, Rubik Astono, mengungkapkan bahwa keberadaan TPS 3R di desanya bermula dari keprihatinan terhadap banyaknya sampah yang berserakan.
Sejak tahun 2021, pemerintah desa mulai berupaya mencari solusi, dan akhirnya pada 2023, TPS 3R resmi berdiri di bawah pengelolaan kelompok masyarakat penyelenggara (KMP) yang juga merupakan bagian dari BUMDesa.
“Dulu, sampah hanya dipindahkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa ada pengolahan. Kami sadar, itu bukan solusi jangka panjang. Akhirnya, kami berinisiatif mengelola sampah sendiri dengan memilah antara organik dan non-organik,” ujar Rubik Astono.
Saat ini, TPS 3R Desa Samar memiliki sekitar 105 nasabah yang membayar retribusi per bulan. Sampah yang dikumpulkan setiap minggu bisa mencapai 300 kilogram per sekali angkut.
Sampah organik diolah menjadi kompos dan media budidaya maggot, sedangkan sampah non-organik dijual ke pengepul atau diupayakan menjadi produk bernilai ekonomis.
Namun, masih ada tantangan dalam mengolah plastik sisa makanan yang belum bisa diolah secara maksimal.
“Saat ini kami hanya bisa membakar sampah plastik dan mencoba memanfaatkan abunya untuk campuran semen dalam pembuatan pot. Ke depan, kami berharap ada dukungan dari pemerintah atau pihak terkait untuk pengadaan insinerator,” harap Rubik.
Camat Pagerwojo, Setiono, mengapresiasi langkah Desa Samar dalam mengelola sampah secara mandiri.
Ia berharap inovasi ini bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kecamatan Pagerwojo yang memiliki 11 desa.
“Sampah itu bukan sekadar masalah, tetapi juga potensi ekonomi. Apa yang dilakukan Desa Samar ini membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, sampah bisa menjadi sumber penghasilan dan menjaga lingkungan tetap bersih,” ujar Setiono.
Desa Samar juga pernah mengikuti program Adipura tingkat kabupaten dan provinsi. Keberhasilan ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan sampah.
Dengan dukungan berbagai pihak, harapan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan ekonomi sirkular yang berkelanjutan di desa ini semakin nyata.
Seperti yang ditegaskan oleh Kepala Desa Samar, “Sampahku, tanggung jawabku.” Prinsip ini dipegang teguh agar setiap warga sadar akan peran mereka dalam menjaga kebersihan dan mengelola sampah dengan bijak.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz