RADAR TULUNGAGUNG - Nama lama Tulungagung sebagai Kadipaten Ngrowo tampaknya masih menyisakan beberapa fakta kondisi alamnya.
Hal ini tidak lepas dari keberadaan sungai yang menghiasi lanskap Tulungagung era sekarang.
Bahkan di beberapa sungai di Tulungagung ini diberi pintu air atau dam.
Berikut nama-nama dam lain di Tulungagung.
1. Dam Majan
Dam Majan berada di perbatasan antara Desa Majan dan Desa Ketanon, keduanya di Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.
Fungsi dam Majan cukup vital karena menjadi pengontrol debit air sungai di wilayah perkotaan.
Saat ini di sekitar Dam Majan banyak dikunjungi orang setiap harinya.
2. Dam Kleben
Dam Kleben terletak di Desa Tiudan, Kecamatan Gondang, Tulungagung.
Dam ini menjadi salah satu jalur pembuangan air dari Waduk Wonorejo di Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung.
Kendati demikian, area Dam Kleben saat ini dikenal sebagai salah satu lokasi ngopi favorit warga Tulungagung dengan keberadaan banya warung kopi di area ini.
3. Dam Paingan
Dam Paingan terletak di Desa Bendungan, Kecamatan Gondang, Tulungagung.
Dikutip dari bendungan.tulungagungdaring.id, dam ini dibangun Belanda pada 1898.
Fungsinya untuk mengatur irigasi di lahan pertanian di wilayah Kecamatan Gondang yang di beri nama bendungan/dam Paingan.
Alhasil keberadaan bangunan ini menjadi dasar penamaan desa yang berada di dekat jalur nasional Tulungagung - Trenggalek ini.
4. Dam Branjang
Dam Branjang berada di sekitar hutan, tepatnya di Desa Blendis, Kecamatan Gondang, Tulungagung.
Meskipun bisa disebut dam, namun sebenarnya juga disebut embung atau waduk kecil karena menjadi lokasi penampungan air.
5. Dam Cluwok
Dam di perbatasan Desa Bono, Kecamatan Boyolangu dan Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang sudah ada sejak zaman Belanda.
Dam ini memiliki 14 pintu air dengan bangunan utama berbahan beton setebal 40 sentimeter (cm).
Tidak heran, dengan konstruksi sedemikian rupa, meskipun telah lama terpendam, dam ini masih terlihat cukup kokoh.
Namun, saat ini dam tersebut tidak lagi berfungsi. Sebab aliran Sungai Ngrowo telah dipindahkan ke sebelah timur, sejalan lurus ke arah selatan.
6. Dam Serut
Desa Serut yang terletak di Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung bisa menjadi lokasi wisata alternatif.
Lokasinya yang dekat dengan pusat kota membuatnya mudah dijangkau.
Menikmati secangkir kopi di sore hari di DAM Serut memberikan pengalaman yang berbeda dari tempat-tempat kopi lainnya.
7. Dam Boyolangu
Dam Boyolangu bisa dikatakan sebuah dam yang unik di Tulungagung.
Karena dam ini berada tepat di bawah jalan raya Tulungagung - Bandung tepatnya antara Desa Waung dan Desa/Kecamatan Boyolangu.
Bahkan konon dam ini dulu juga dilintasi jalur kereta api mati Tulungagung - Trenggalek.
Setiap tahun di Dam Boyolangu ada agenda pladu yang selalu dinantikan masyarakat untuk mencari ikan mabuk.
8. Dam Ngipeng
Dam Ngipeng berada di perbatasan Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol dan Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.
Dam ini berada di jalur sungai yang sama dengan Dam Boyolangu.
9. Dam Pacar
Dam Pacar terletak di Dusun Kedungjalin, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.
Pada 2024 silam sempat terjadi peristiwa saat warga mempersoalkan operasional dam.
Apalagi ada sekitar 900 hektare lahan pertanian yang terancam kekeringan.
10. Dam Trenceng.
Sesuai namanya, Dam Trenceng berada di Desa Trenceng, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.
11. Dam Segawe
Dam Segawe berada di Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung.
Dam yang berada di aliran Kali Song ini menawarkan keindahan alam yang luar biasa.
Bahkan sering dijadikan area kemping anak muda Tulungagung.
12. Dam Buntaran
Dam Buntaran berada di Desa Buntaran, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung.
Lokasi Dam Buntaran ini sering dijadikan jujukan warga sekitar untuk melepas penat karena pemandangannya cukup menyejukkan mata.
13. Dam Peksi
Dam Peksi yang berarti burung dalam bahasa Jawa ini berada di Dusun Tamanan, Desa Sukowiyono, Kecamatan Karangrejo, Tulungagung.
14. Dam Karangtalun
Dam Karangtalun berada di Desa Karangtalun, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung.
Lokasi ini sering menjadi arena memancing bagi masyarakat sekitar. ***
Editor : Dharaka R. Perdana