Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kaligrafi Timbul Kebanjiran Pesanan di Bulan Ramadhan

Matlaul Ngainul Aziz • Kamis, 20 Maret 2025 | 05:23 WIB

Komarudin kebanjiran pesanan kaligrafi timbul di bulan ramadan
Komarudin kebanjiran pesanan kaligrafi timbul di bulan ramadan

Radar Tulungagung - Bulan suci Ramadan menjadi bulan yang penuh berkah bagi Komarudin seorang pengrajin kaligrafi timbul asal Desa Sumberejokulon, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung.

Bahkan pesanan kaligrafi timbul ini meningkat hingga 200 persen di bulan Ramadan ini.

MATLAUL NGAINUL AZIZ, Radar Tulungagung - Komarudin pengrajin kaligrafi timbul asal Desa Sumberejokulon Ngunut mendapat berkah di bulan suci Ramadan.

Ketika masuk ke kediaman Komarudin, seluruh ruang tamu dipenuhi dengan puluhan kaligrafi timbul pesanan konsumen.

Komarudin beserta istrinya terlihat kompak menyelesaikan pesanan-pesanan kaligrafi timbul.

Pria berusia 53 tahun ini sebenarnya telah mengenal kaligrafi sejak tahun 1992. Dimana dia telah mencari kesempatan untuk membaca peluang dari kaligrafi sejak masih duduk di bangku SMA.

"Saya menggeluti sejak tahun 1992 ketika masih Aliyah jualan (kaligrafi) nama bayi di pengajian-pengajian hingga tempat-tempat keramaian yang lain," jelasnya kemarin (19/3).

Kini dengan dibantu sang istri, Komarudin mencoba peruntungan baru dengan membuat kerajinan kaligrafi timbul yang dibuat dari lem silikon. Diketahui dia telah menjalankan kerajinan kaligrafi timbul sejak 3 tahun lalu.

Di bulan suci Ramadan ini, dia bisa mendapatkan pesanan hingga 8 sampai 9 permintaan. Berbeda dengan bulan biasa yang hanya mendapatkan 2 sampai 3 pesanan.

"Alhamdulillah 3 tahun terakhir ini perkembangannya sangat memuaskan. Berkah Ramadan, permintaan peningkatannya sekitar 200 persen. Sebelumnya 2 atau 3 sebulan, kalau sekarang bisa 8 sampai 9 permintaan," ucapnya.

Alumnus Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Ngunut Tulungagung ini mengaku, dalam pembuatan kaligrafi timbul perlu lapisan dasar adalah kain bludru.

Proses pembuatan sesuai permintaan yakni dengan melukis diatas kain bludru dengan ukuran yang telah ditentukan.

Barulah langkah berikutnya, menggunakan lem silikon mengikuti hasil kaligrafi yang telah digambar.

Lalu, menunggu beberapa saat setelah kering. Berlanjut pelapisan menggunakan foil prada sebagai pewarna perak hingga emas.

"Untuk warna kita kasih prada untuk warna emas, warna putih dan juga warna perak," paparnya.

Komarudin menunjukkan hasil kaligrafi ketika selesai, proses pembilasan dengan air pelan-pelan untuk menghilangkan bekas foil prada dan lainnya.

Setelah menunggu beberapa menit dijemur, akhirnya bisa diangkat untuk dimasukkan ke dalam pigora sesuai ukuran kaligrafi. Dan proses finishing selesai siap diambil maupun diantar oleh pembeli.

"Lama pembuatan tergantung dari pesanan. Kalau lafadz Allah dan Muhammad setengah hari saja jadi. Tapi kalau kaligrafi ayat kursi tentang, kaligrafi seribu dinar itu bisa sampai 1 hari. Asmaul Husna bisa sampai 2 hari dan seterusnya," ungkapnya.

Kalau harga, pria yang saat ini tercatat sebagai Dosen STAI Diponegoro Tulungagung mengaku, harga kaligrafi timbul dibandrol dengan termurah 40 ribu tanpa pigora.

Ada 400 ribu, 800 ribu, sampai 4,5 juta sesuai dengan tingkat kesulitannya.

"Ada yang 4 juta setengah itu sesuai dengan ukuran dan tingkat kesulitannya. Seperti beberapa waktu lalu membuat kiswah," jelasnya.

Komarudin mengaku konsumen hasil karyanya berasal dari seputaran Tulungagung.

Lalu, Kediri, Trenggalek, Blitar, Malang, Jombang serta dari luar negeri pernah ada yang meminta untuk dibawa ke Taiwan dan

"Pernah ke Taiwan itu kaligrafi Ayat Kursi, termasuk juga dari Qatar mendapat pesanan dari bosnya orang Tulungagung," ucapnya.

Pria yang juga Sekretaris LTMNU Tulungagung ini menambahkan pernah menolak pesanan gegara dilanda sakit. Akan dilempar ke teman yang menggeluti kaligrafi tidak ada yang bersedia.

Kelebihan hasil kaligrafi timbul yang ia buat, Komarudin mengaku memang berasal dari kalangan pesantren.

Sehingga lafadz-lafadz hingga model penulisan sudah sesuai kaidah-kaidah kaligrafi.

Termasuk dari segi ketelitian sampai kerapian Komarudin benar-benar sangat menjaga. Selain kaligrafi adalah seni, juga sebagai syi'ar islam melalui kaligrafi yang ia buat.

"Sayang temen-teman (yang bisa kaligrafi) ada puluhan di Tulungagung, tapi tidak ada yang bergerak disini. Ini kelas premium dikerjakan dengan hati-hati dan menghasilkan lebih dari yang lain. Brand possisioning marketnya disitu," pungkasnya.

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#kaligrafi #ramadan #bulan suci ramadan