Radar Tulungagung - Pencak silat merupakan salah satu budaya leluhur yang masih populer hingga saat ini.
Bahkan kini anggota pencak silat masih diminati oleh seluruh kalangan umur dengan jumlah anggota puluhan ribu pesilat di Tulungagung.
Namun dibalik popularitasnya, masih banyak konflik-konflik antar perguruan pencak silat yang terjadi.
Baca Juga: Sandang Status Mandiri, Perjalanan Panjang Desa Bukur Tulungagung Menuju Kemandirian
Tentu konfik antar perguruan pencak silat ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat.
Faktor utama timbulnya konflik antar perguruan pencak silat ini salah satunya yakni tingkat fanatisme yang berlebih.
Loyalitas dalam suatu organisasi pencak silat terkadang memunculkan perasaan fanatisme berlebih. Hal inilah yang kemudian memicu ketidakterimaan terhadap kelompok lain.
Baca Juga: Daftar Oleh-Oleh Khas Tulungagung yang Wajib Kamu Coba Jelang Lebaran, Jangan Sampai Kehabisan!
Berujung adanya bentrok dari oknum perguruan pencak silat ketika terdapat gesekan kecil.
Selain fanatisme berlebih, rivalitas sejarah kerap menjadi dalih ketika terjadinya konflik antar perguruan pencak silat.
Persaingan ini membuat hubungan antar anggota pencak silat semakin sensitif sehingga memunculkan konflik.
Tingginya popularitas pencak silat di Tulungagung terutama dari kalangan usia remaja membuat mudahnya konflik lantaran emosi sesaat maupun provikasi.
Diketahui hal ini bisa terjadi lantaran kurangnya pengendalian diri dan kesadaran dari para pesilat.
Pendidikan serta pembinaan mental menjadi salah satu solusi yang dapat meminimalisir konflik perguruan pencak silat di Tulungagung.
Baca Juga: Jangan Mudah Tertipu, Ini Dia Kemungkinan Isi Kaleng Khong Guan Saat Kalian Lebaran di Tulungagung
Dimana pencak silat harus lebih menekankan nilai-nilai persaudaraan dan pengendalian diri. Bukan hanya aspek fisik dalam bela diri.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz