Radar Tulungagung - Awal tahun 2025 ini, masyarakat Tulungagung tengah dibayangi oleh lonjakan kasus chikungunya.
Diketahui sejak awal bulan Januari hingga Maret, setidaknya ada 210 suspek dengan total pasien positif chikungunya ada 13 pasien.
Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana mengatakan, berdasarkan data temuan kasus chikungunya di awal tahun 2025 ini telah melebihi temuan kasus di tahun 2024 lalu.
Dari data yang dimiliki Dinkes Tulungagung, sampe bulan maret sudah ada 210 suspek bergejala Chikungunya dengan total pasien positif Chikungunya sebanyak 13 pasien.
Sementara data tahun 2024 lalu, sepanjang tahun suspek Chikungunya sebanyak 170 orang dengan 18 kasus dinyatakan positif Chikunguna.
“Tahun ini terdapat kenaikan kasus Chikungunya sebesar 20 persen,” jelasnya kemarin (6/4).
Baca Juga: Tanda Tanya Masa Depan Batik Tulungagung, Dibayangi Krisis Pembatik Muda
Kasus chikungunya ini ditemukan tersebar di beberapa wilayah di Tulungagung. Dimana kasus ini cukup merata.
Adapun beberapa wilayah tersebut meliputi Kecamatan Kedungwaru, Kalidawir, Kauman, Karangrejo, Boyolangu dan Gondang.
Beruntung potensi kematian atas penyakit infeksi virus yang ditularkan oleh nyamuk tersebut hingga kini masih nihil.
Desi menjelaskan bahwa Chikungunya menyebabkan sakit dan nyeri pada bagian tubuh bagi penderitanya.
Terparah, penderitanya bahkan ada yang mengalami lumpuh sementara.
“Namun setelah mendapatkan pengobatan, pasien penderita Chikungunya berangsur sembuh. Pengobatan Chikungunya terkait erat dengan imunitas tubuh,” ungkapnya.
Kemudian untuk penyebab Chikungunya sebenarnya sama dengan kasus DBD yaitu disebabkan oleh perkembangan jentik dan nyamuk.
Baca Juga: Lebih dari 50 Kilometer Jalan Kolektor Rusak, Begini Kata Dinas PUPR Tulungagung
Mendapati hal itu, penanganan efektif untuk kasus ini yakni dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Makanya masyarakat dihumbau untuk waspada setiap pukul 07.00 hingga 10.00 pagi. Kemudian pukul 16.00 sampai 17.00 sore,” imbuhnya.
Karena nyamuk Aedes Aegypti maupun nyamuk Aedes Albopictus sebagai fektor pembawa virus Chikungunya kerap aktif pada jam-jam tersebut. (nul)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz