Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sudah Dua Dekade Menjadi Pengrajin Sangkar Burung dari Tulungagung, Begini Susah Senangnya Sidik

Rinto Wahyu Hidayat • Jumat, 11 April 2025 | 06:37 WIB
Sidik, Pengrajin Sangkar Burung dari Desa Wajak Lor Kecamatan Boyolangu
Sidik, Pengrajin Sangkar Burung dari Desa Wajak Lor Kecamatan Boyolangu

RADAR TULUNGAGUNG - Dua dekade sudah, Sidik (65) warga Desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu bertahan sebagai pengrajin sangkar burung.

Baginya, sangkar burung yang dibuat bukan hanya sebagai tempat tinggal burung. Tetapi sebagai karya seni bernilai tinggi.

Meski era modern menawarkan banyak kemudahan produksi massal, para pengrajin ini terus bertahan dengan kualitas dan sentuhan seni yang khas.

Sidik adalah salah satu pengrajin senior yang masih setia menekuni profesi ini.

Selama lebih dari 20 tahun, Sidik menghasilkan sangkar burung yang tak sekadar berfungsi sebagai tempat tinggal bagi burung, tetapi juga sebagai karya seni bernilai tinggi.

“Sangkar burung yang baik harus kuat, nyaman, dan juga enak dipandang. Kami membuatnya dengan penuh perhatian agar burung merasa nyaman dan betah,” ujar Sidik.

Harga sangkar buatannya bervariasi, bergantung pada tingkat kesulitan dan desain dari konsumen.

Sidik menegaskan, meskipun permintaan terus mengalir, dirinya tak pernah mengabaikan aspek kualitas.

Keunikan produknya terletak pada bahan baku dan desain yang mengedepankan estetika serta kenyamanan.

Sidik menggunakan kayu pilihan yang dikombinasikan dengan anyaman halus, bahkan beberapa produknya dihiasi dengan ukiran khas Bali yang memperkuat nilai seni dari sangkar tersebut.

Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap burung kicauan, permintaan terhadap sangkar berkualitas turut melonjak.

Penggemar burung dari berbagai daerah seperti Bojonegoro, Malang, dan Nganjuk kerap datang langsung untuk membeli produk lokal Tulungagung.

Diantaranya bahkan banyak digunakan dalam perlombaan burung tingkat regional.

Namun begitu, industri sangkar burung tradisional ini tak lepas dari tantangan.

Gempuran produk pabrikan yang menawarkan harga lebih murah menjadi ancaman serius.

Untungnya sebagian besar penggemar burung tetap memilih produk lokal karena kualitas dan keunikan desainnya yang tidak bisa didapatkan dari produk massal.

“Kami harus mempertahankan cara-cara tradisional, karena di situlah nilai lebih kami,” tegas Sidik.

Di sisi lain, keterbatasan akses pemasaran juga menjadi kendala utama.

Mayoritas pengrajin masih mengandalkan penjualan secara offline dan jaringan pasar lokal.

Padahal, dengan pemanfaatan teknologi digital, potensi pasar bisa diperluas secara signifikan.

Meski demikian, semangat para pengrajin di Tulungagung tetap menyala.

Bagi mereka, kerajinan sangkar burung bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari warisan budaya yang harus dijaga dan diwariskan.

Industri rumahan ini telah menjadi tulang punggung ekonomi bagi banyak keluarga sekaligus memperkaya identitas budaya daerah.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah dan masyarakat, kerajinan ini diyakini dapat terus tumbuh dan bersaing di tengah perubahan zaman.

“Yang penting bukan seberapa banyak kita bisa produksi, tetapi seberapa berkualitas dan bermaknanya karya yang kita hasilkan,” pungkas Sidik.***

Editor : Mukhamad Zainul Fikri
#tulungagung #sangkar burung #kicau mania #sangkar burung ukiran #burung kicau