Radar Tulungagung - Tempe, makanan khas Indonesia yang telah lama menjadi lauk andalan masyarakat, ternyata memiliki proses pembuatan yang cukup rumit.
Hal ini diungkapkan oleh siswanto pengusaha tempe asal Desa Tiudan, Kecamatan Gondang, Tulungagung.
Usaha tempe murni yang dijalankan pak siswanto saat ini merupakan warisan keluarga yang telah ada sejak tahun 1967, dirintis oleh sang ibu, dan kini dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Selama sekitar satu dekade terakhir, usaha ini tetap eksis dan bertahan di tengah persaingan kuliner yang semakin beragam.
Menurutnya, proses pembuatan tempe membutuhkan ketelatenan dan waktu yang tidak sebentar.
Dimulai dari merebus kedelai selama satu jam, kemudian airnya dibuang dan kedelai direndam semalaman.
Setelah itu, kedelai dicuci kembali, diberi ragi, disiram lagi, lalu diurai atau ditata agar proses fermentasi berlangsung optimal.
Keseluruhan proses ini memakan waktu sekitar empat hari tiga malam hingga tempe siap dikonsumsi.
Selain rasanya yang khas dan harganya yang terjangkau, tempe juga dikenal memiliki kandungan nutrisi yang tinggi.
Di dalamnya terdapat protein, fosfor, kalsium, magnesium, zat besi, folat, mangan, seng, hingga vitamin B6.
Manfaat kesehatan dari konsumsi tempe pun cukup banyak, antara lain membantu mengatur berat badan, menjaga kesehatan pencernaan, menurunkan kadar kolesterol, mencegah osteoporosis, hingga mengatasi anemia.
Usaha tempe tradisional ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan keluarga, tetapi juga bentuk pelestarian kuliner lokal yang sarat manfaat.
Dengan kualitas dan cita rasa yang terus dijaga, tempe lokal ini menjadi pilihan sehat, bergizi, dan ekonomis bagi masyarakat sekitar.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz