TULUNGAGUNGAN – Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang, dikenal sebagai salah satu sentra budi daya ikan lele di Kabupaten Tulungagung.
Banyak warga setempat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan air tawar ini.
Lele menjadi pilihan karena proses budi dayanya yang relatif cepat dan bisa dipanen dalam waktu sekitar empat bulan sejak benih ditebar.
Salah satu pembudi daya yang telah lama menekuni usaha ini adalah Mbah Kasidi.
Ia telah berkecimpung dalam dunia budi daya lele selama 12 tahun.
Dalam pengalamannya, tantangan utama yang dihadapi para peternak bukan hanya soal pemasaran, tetapi juga harga jual lele yang cenderung stagnan.
“Harga lele dari dulu mentok di kisaran Rp20 ribuan per kilogram, jarang naik. Tapi harga pakan terus naik,” ujarnya.
Saat ini, harga pakan ikan berada di angka sekitar Rp420 ribu per sak ukuran 30 kilogram.
Kenaikan harga pakan yang terus terjadi dari waktu ke waktu membuat biaya produksi semakin berat, sementara harga jual lele tidak sebanding dengan pengeluaran yang harus ditanggung petani.
Dalam satu siklus budi daya, kolam berukuran 6x17 meter biasanya diisi sekitar 13 ribu ekor ikan.
Selama masa pemeliharaan, dibutuhkan ketelatenan dalam pemberian pakan dan perawatan air agar hasil panen maksimal.
Baca Juga: Kemarau Ekstrim, Budi Daya Ikan Hias di Blitar Terancam Rungkad, Begini Kata Disnakkan
Di tengah keterbatasan, para petani lele di Gondosuli tetap berupaya bertahan.
Harapan mereka tertuju pada adanya dukungan dari pemerintah daerah maupun pihak swasta untuk membantu memperluas akses pasar dan menstabilkan harga pakan.
Tujuannya agar usaha budi daya lele bisa terus berlanjut dan memberi keuntungan yang layak.(***)
Editor : Vidya Sajar Fitri