Radar Tulungagung - Suasana malam itu di Hotel Abrajtabah, Madinah, Jumat 2 Mei 2025 malam penuh dengan hiruk pikuk khas musim haji. Jemaah dari Embarkasi Surabaya baru saja tiba. Di lobi hotel, petugas haji tampak sibuk memverifikasi nama, membagikan kamar, dan mendorong kursi roda bagi para jemaah lanjut usia.
Koper-koper berdatangan, antre menuju kamar masing-masing. Sementara sebagian jemaah lainnya bersiap menunaikan salat Isya di Masjid Nabawi. Di salah satu sudut ruangan, duduk sepasang suami istri lansia.
Sang suami, Subaini Mudjiran, 73, mengenakan jas hijau khas rombongan Tulungagung dan peci hitam. Lehernya berselimut syal merah. Ia bersandar di sofa single seat berwarna krem dengan bantal jingga. Di sampingnya, istrinya, Sulikha, setia menemani.
Subaini, kelahiran 3 Desember 1951, berasal dari Desa Jatidowo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Ia bukan orang kaya. Di kampungnya, ia dikenal sebagai petani dan guru ngaji. Hidupnya sederhana, namun jiwanya lapang dan penuh syukur.
"Jadi guru ngaji dan bertani," ucapnya lirih, dengan mata menatap lurus ke depan, seperti tengah menapak jejak panjang kehidupannya.
Subaini baru saja menjalani ujian hidup. Setahun lalu, ia terkena stroke. Bagian kanan tubuhnya lumpuh. Kini, setiap langkahnya membutuhkan bantuan. Ketika tiba di hotel malam itu, Jumat (2/5) sekitar pukul 20.00 Waktu Arab Saudi atau sekitar Sabtu (3/5) pukul 00.00 WIB, ia diturunkan dari bus menggunakan kursi roda.
Sulikha, istrinya yang masih sehat, sibuk mondar-mandir menanyakan pembagian kamar kepada petugas, sembari terus memastikan suaminya nyaman.
Namun bukan itu yang membuat Subaini menangis malam itu. Tangisnya meleleh saat bercerita tentang perjalanan panjang penuh harap menuju Tanah Suci.
Ia mendaftar haji sendirian pada 2012, di tengah kesulitan ekonomi dan anak-anak yang belum tuntas sekolah. Ia hanya punya satu keyakinan: bahwa suatu hari Allah akan memanggilnya ke Baitullah.
"Ekonomi saya susah, anak-anak belum ada yang mentas sekolah, saya tekad daftar haji," katanya, air mata menetes perlahan di pipi, diusap lembut dengan lengan jas hijaunya.
Lima tahun kemudian, pada 2017, ia mendatangi seorang tetangga yang baru pulang haji. Tetangga itu menyarankan agar ia mendaftarkan istrinya agar bisa berhaji bersama. Saran itu menumbuhkan harapan baru.
"Katanya, kalau saya daftarkan istri sekarang, nanti bisa berangkat bareng. Jadi pendamping," ujarnya, suara tercekat.
Ia pun mendaftarkan Sulikha. Sejak itu, impian berhaji bukan lagi impian pribadi. Ia ingin bersama istrinya. Menjawab panggilan Ilahi berdua, tangan dalam tangan.
Namun jalan menuju Tanah Suci tak semudah niat. Saat pengumuman keberangkatan tiba, mereka harus melunasi biaya haji. Tanpa pikir panjang, Subaini menjual tiga ekor sapi, aset berharga yang dimilikinya.
"Jual sapi 3. Laku Rp 56,5 juta," tuturnya.
Dari hasil itu, keduanya akhirnya bisa duduk berdampingan di kursi pesawat Saudi Airlines, menuju kota suci Madinah. Ketika tahu bahwa hotelnya hanya beberapa langkah dari Masjid Nabawi, Subaini tak bisa menyembunyikan haru.
Dia ingin memperbanyak ibadah. Ingin menumpahkan rindu dan syukur, meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu. “Saya berdoa, supaya mabrur dan bisa kembali sehat setelah berhaji,” ucapnya pelan, sebelum kembali menyeka air matanya.
Pemerintah Indonesia tahun ini memang memberikan perhatian besar kepada jemaah lansia dan jemaah risiko tinggi seperti Subaini. Salah satu upaya itu adalah skema murur, yaitu mabit (bermalam) dengan hanya melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus.
Jemaah diberangkatkan dari Arafah dan langsung dibawa ke Mina. Skema ini memberi kemudahan bagi jemaah yang fisiknya terbatas.
Ada juga skema tanazul, yakni sistem yang memungkinkan sebagian jemaah, khususnya lansia dan risiko tinggi, untuk tidak mabit di tenda Mina, melainkan kembali ke hotel dekat Jamarat setelah melempar jumrah.
Upaya ini menjadi jembatan penting bagi jemaah seperti Subaini, agar tetap bisa menjalankan seluruh rukun dan wajib haji dengan aman dan layak.
Di lobi hotel yang mulai lengang, Subaini masih duduk, menyimpan sejuta rasa di balik senyumnya. Malam itu, ia tidak hanya menanti kamar. Ia tengah menanti bukti dari doa yang selama 13 tahun ia lantunkan dalam sunyi.
Di sampingnya, Sulikha, perempuan setia yang telah bersamanya dalam suka dan duka, tersenyum, menepuk lembut tangan suaminya.
Mereka bukan hanya pasangan suami istri yang menunaikan ibadah bersama. Mereka adalah saksi dari keteguhan, kesabaran, dan cinta yang mengantar mereka menuju Tanah Suci.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz