Radar Tulungagung - Di tengah tekanan ekonomi yang melanda pedesaan, sebagian warga Desa Tawing, Kecamatan Gondang, justru menemukan peluang di halaman rumah mereka sendiri.
Buah belimbing, yang dulu hanya tumbuh liar di pekarangan, kini menjelma menjadi sumber penghidupan bagi sejumlah warga meski dalam skala terbatas.
Salah satu kisah datang dari Dusun Pampang. Heri, seorang petani lokal, mengungkap bahwa kebun belimbing miliknya telah bertahan lebih dari dua dekade.
Meski awalnya tak direncanakan sebagai usaha, meningkatnya permintaan pasar membuat ia dan keluarganya mengubah pendekatan.
Belimbing tak lagi sekadar buah musiman, tapi menjadi komoditas yang memerlukan perawatan serius.
“Awalnya belimbing cuma kami anggap sekadar buah pekarangan. Tapi ketika permintaan belimbing semakin banyak, keluarga kami mulai serius merawat belimbing jadi usaha,” ujarnya.
Kini, dalam kurun waktu sekitar satu setengah bulan, Heri mampu memanen hingga enam kuintal buah.
Dengan harga jual yang fluktuatif bisa mencapai Rp5.000 per kilogram, pendapatan dari kebun tersebut cukup membantu menopang kebutuhan rumah tangga. Namun di balik angka-angka itu, tersembunyi dinamika yang lebih dalam.
Pertanian belimbing di desa ini tumbuh tanpa pendampingan intensif dari lembaga pertanian, dan sebagian besar masih dikelola secara tradisional.
Ketiadaan koperasi atau kelompok tani formal menjadikan distribusi hasil panen bergantung pada relasi pribadi dan tengkulak, sehingga posisi tawar petani kerap lemah.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: sampai di mana batas potensi lokal bisa diolah tanpa dukungan sistemik? Apakah kekuatan tanah yang subur cukup untuk menjamin keberlanjutan pertanian jika tidak dibarengi dengan kebijakan yang mendukung?
Nanang Setiawan, Kepala Desa Tawing, mengakui bahwa sektor pertanian, khususnya hortikultura seperti belimbing, belum masuk ke dalam skema pengembangan desa secara strategis.
“Kami melihat geliat dari masyarakat, tapi memang belum ada struktur kelembagaan yang membackup secara khusus. Ke depan, itu yang ingin kami dorong,” katanya.
Apa yang terjadi di Tawing mencerminkan wajah pertanian kecil di banyak desa Indonesia: bertahan dalam keheningan, tumbuh dari inisiatif individu.
Namun belum sepenuhnya mendapat tempat dalam rencana pembangunan desa. Di satu sisi, ada semangat dan kearifan lokal. Di sisi lain, ada keterbatasan sistemik yang membuat potensi itu rentan tak berkembang.
Ketika belimbing tak lagi sekadar buah pekarangan, desa-desa seperti Tawing sedang mengetuk pintu perhatian lebih luas, bukan untuk dijadikan sorotan semata, tapi untuk didengar kebutuhannya secara nyata.(rin)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz