Radar Tulungagung - Terletak di Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung dan membentang hampir dari hulu hingga hilir sungai satu ini memiliki peran penting bagi masyarakat di Tulungagung.
Tak hanya dikenal sebagai kebutuhan vital di tengah kehidupan masyarakat, sungai ini juga menyimpan kisah tragis yang tersimpan selama bertahun-tahun.
Yaps, sungai yang dimaksud yakni Sungai Lembu Peteng. Secara harfiah, Sungai Lembu Peteng memiliki arti Lembu Gelap.
Namun, penamaan Sungai Lembu Peteng dalam konteks lokal merupakan sebuah simbolik yang memiliki makna kegelapan yang menyeramkan atau tempat yang dihuni energi kelam.
Bahkan, berdasarkan cerita masyarakat, dulunya Sungai Lembu Peteng menjadi tempat pembuangan mayat korban dari penjajahan Belanda di Tulungagung.
Pada masa kolonial, Sungai Lembu Peteng dipercaya sebagai lokasi penyiksaan maupun eksekusi secara senyap terhadap pejuang tanah air maupun masyarakat sipil yang dianggap membangkang.
Dimana mayat-mayat korban dari penjajahan Belanda tersebut dibuang begitu saja ke Sungai Lembu Peteng.
Pembuangan mayat korban masa kolonialisme Belanda ke Sungai Lembu Peteng ini bermaksud menghilangkan jejak.
Akibat hal itu, hingga saat ini masyarakat setempat masih mempercayai apabila arwah korban penjajahan Belanda masih bersemayang di Sungai Lembu Peteng sehingga menciptakan aura mistis yang masih kental.
Adapun masyarakat setempat kerap mendapati adanya fenomena atau kejadian mistis di Sungai Lembu Peteng.
Seperti terdengarnya suara tangisan atau rintihan saat malam hari hingga penampakan sosok bayangan yang menghilang ketika melewati sungai.
Tak hanya itu, sebagian masyarakat juga sempat mengalami hewan ternak yang mati secara tiba-tiba setelah meminum air Sungai Lembu Peteng.
Terciumnya aroma amis darah saat malam hari yang tiba-tiba muncul di sekitar Sungai Lembu Peteng.
Kini Sungai Lembu Peteng menjadi salah satu destinasi wisata bagi masyarakat Tulungagung.
Sebab, wilayah sekitar Sungai Lembu Peteng menjadi pusat berbagai pedagang kaki lima sehingga kerap menjadi rujukan masyarakat.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz