Radar Tulungagung - Pembukaan kafe baru di Tulungagung kian tak terbendung. Bahkan kini fenomena kafe baru kian menjamur dan menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat, khususnya generasi milenial.
Dimana hal ini menjadi cerminan bahwasannya ada perubahan signifikan terhadap pola konsumsi masyarakat Tulungagung.
Tentu fenomena ini memiliki dampak yang begitu luas, yakni dari sisi permintaan konsumen hingga peluang bagi pengusaha.
Tumbuhnya banyak kafe baru di Tulungagung menunjukkan dinamika positif dalam sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Adapun munculnya kafe baru ini membuka lapangan kerja baru yang dapat membantu atau berkontribusi terhadap penurunan angka pengangguran dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Namun, dari segala sisi positif tumbuhnya kafe baru di Tulungagung memberikan dampak tersendiri pada warung kopi tradisional yang telah menjadi budaya masyarakat lokal.
Perubahan pola konsumsi dan gaya hidup, sedikit banyak memberikan efek terhadap keberlangsungan warung kopi tradisional.
Kendati demikian, rupaya permintaan konsumen untuk tetap berkunjung ke warung kopi tradisional di Tulungagung masih terbilang tinggi.
Diketahui masyarakat lokal di Tulungagung dapat mengunjungi warung kopi tradisional sebanyak 3 kali dalam satu hari.
Berbeda halnya dengan kafe, dimana 6 dari 10 pemuda di Tulungagung dapat mengunjungi kafe hanya satu kali dalam satu hari.
Hal ini menunjukkan apabila warung kopi tradisional tetap menjadi budaya masyarakat lokal untuk menikmati secangkir kopi.
Harga terjangkau dan rasa kopi yang lebih khas membuat warung kopi tradisional di Tulungagung masih tetap terus diminati masyarakat lokal.
Bahkan tidak sedikit konsumen kopi di Tulungagung berasal dari wilayah di luar Tulungagung, seperti Trenggalek, Blitar, dan Kediri.
Adanya aneka jenis kopi mulai dari kopi ijo dan kopi grasak semakin memberikan daya saing terhadap gempuran kafe baru di Tulungagung.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz