Radar Tulungagung - Siapa sangka, dari lahan 500 meter persegi di pelosok Tulungagung, lahir sebuah inovasi pertanian yang bukan hanya menguntung kan petani, tapi juga menarik wisatawan dari berbagai kota.
Melon Tidak hanya menjadi bahan makanan yang dibeli di pasar, buah melon kini naik kelas menjadi pengalaman wisata. Di Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.
pasangan suami-istri, Nurhayati dan suaminya, sukses mengubah kebun melon menjadi magnet baru bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Mengusung konsep wisata petik melon, mereka membuka kebun melon premium varietas Inthanon RZ seluas 500 meter persegi untuk umum.
Pengunjung dapat memetik langsung buah melon segar dari batangnya, menikmati rasa manis alami tanpa kandungan pestisida—sebuah penawaran langka di tengah gempuran buah hasil pertanian kimia.
Harga yang ditetapkan, Rp 25.000 per kilogram, jauh melampaui harga pasar. Tapi justru di situlah letak daya tariknya.
"Lebih manis, lebih renyah, dan kriuk saat dimakan. Yang paling penting, sehat karena bebas bahan kimia," ujar Mei Rukmanasari, salah satu pengunjung yang datang dari luar kota.
Konsep ini bukan sekadar jualan buah, tapi memperkenalkan gaya hidup baru: kembali ke alam, makan sehat dari sumbernya, sekaligus menikmati prosesnya.
Inilah bentuk edutourism yang semakin diminati, terutama oleh keluarga muda dan generasi urban yang rindu pada kesederhanaan desa.
Lebih dari sekadar lahan panen, kebun melon ini menjelma menjadi ruang interaksi, edukasi, dan tentu saja, peluang ekonomi baru.
Nurhayati mengandalkan media sosial untuk promosi, dan hasilnya mengejutkan. Pembeli datang dari Bogor, Madiun, Ponorogo, bahkan hingga Pontianak.
“Dulu kami hanya menjual ke tengkulak. Sekarang, lewat wisata petik, keuntungan lebih besar dan kami bisa langsung berinteraksi dengan pembeli,” jelas Nurhayati.
Ia berharap konsep ini bisa terus berkembang dan menjadi alternatif pertanian masa depan yang ramah lingkungan dan ramah pasar.
Tidak hanya menarik secara ekonomi, wisata petik melon ini juga memberi harapan baru bagi regenerasi petani di desa.
Anak-anak muda mulai melihat bahwa bertani bisa modern, menguntungkan, dan bahkan instagramable.
Kini, Desa Jabalsari tak hanya dikenal sebagai desa pertanian biasa, tapi juga sebagai pelopor agrowisata berbasis inovasi dan kesehatan.
Sebuah transformasi sunyi dari balik ladang, yang menawarkan manisnya masa depan—tanpa pestisida dan tanpa tengkulak(rin)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz