Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ritual Ulur-Ulur di Telaga Buret Kembali digelar pada tahun 2025 ini

Sandy Sri Yuwana • Jumat, 9 Mei 2025 | 20:02 WIB
Ritual jamasan patung Dewi Sri dan Joko Sedono, Pada Upacara Adat Ulur-Ulur.
Ritual jamasan patung Dewi Sri dan Joko Sedono, Pada Upacara Adat Ulur-Ulur.

CAMPURDARAT, Radar Tulungagung - Tradisi ritual adat Ulur-ulur, kembali digelar oleh Masyarakat di sekitar Telaga Buret, yang terletak di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat hari ini, Jumat 9 Mei 2025.

  Tradisi tahunan tersebut kali ini digelar dengan tajuk "Hamemayu Hayuning Bawana".

  Tradisi Ulur-ulur menjadi simbol rasa syukur Masyarakat atas ketersediaan air kehidupan di sekitar Kecamatan Campurdarat. 

  Ritual ini dihadiri oleh Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo bersama Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin.

  Serta didampingi dari Forkopimcam, jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, dan juga empat kepala desa sekitar. 

  Berbeda dari tahun-tahun lalu, pada tahun 2025 ini upacara adat Ulur'ulur juga dihadiri dari perwakilan Dirjen Kementerian Kebudayaan dan juga anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Guntur Wahono.

  Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo mengungkapkan tradisi ini sebagai rasa syukur terhadap kelimpahan air dari Telaga Buret.

  Kemudian Bupati Tulungagung menyampaikan akan melestarikan tradisi-tradisi seperti ini.

  Apalagi Tradisi Ulur-ulur ini sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda, oleh pemerintah pusat.

  Dengan begitu Bupati Tulungagung juga mengajak masyarakat untuk menggelar upacara adat seperti ini dengan lebih meriah dan spektakuler lagi pada tahun-tahun berikutnya.

  "Dari tahun ke tahun masih biasa. Tahun depan kegiatan adat budaya seperti ini harus lebih meriah dan spektakuler. Sehingga tidak hanya sebagai upacara tahunan, tapi juga bisa menjadi potensi wisata budaya untuk masyarakat Tulungagung," ungkapnya.

  Telaga Buret ini memberikan limpahan air untuk masyarakat empat desa yaitu Desa Sawo, Desa Gedangan, Desa Ngentrong dan Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat. meski terhimpit di antara industri marmer. 

  Tradisi ini selalu digelar setiap tahun sekali oleh masyarakat Kasepuhan Tirta Mulya (KTM).

  Tradisi tersebut biasanya digelar pada hari Jumat Legi, pada bulan Sela, dalam penanggalan Jawa. 

  Ritual adat ini diawali dengan kirab sesaji dengan diiringi oleh para dayang serta anggota Kasepuhan Tirta Mulia, Usai kirab keliling desa, kemudian dibawa ke area Telaga Buret untuk dilakukan prosesi ritual. Ritual tersebut meliputi ziarah kepada makam leluhur dan jamasan sepasang patung Joko Sedono dan Dewi Sri.

  Kedua patung tersebut memiliki filosofi sebagai sandang pangan.

  Prosesi jamasan dilakukan oleh tokoh adat setempat yang mendapatkan mandat dari kasepuhan.

  Pertama dengan perlahan, satu persatu patung tersebut dimandikan dan didandani dengan hiasan mahkota dari janur. Setelah itu rangkaian jamasan dilanjutkan dengan tabur bunga di Telaga Buret oleh Bupati Tulungagung dan Wakil Bupati beserta jajarannya.

  Tak lupa Bupati Tulungagung ikut menari tayub bersama masyarakat ketika seusai melakukan prosesi ritual.

  Terakhir ritual ini ditutup dengan selamatan sebagai tanda pemanjatan doa kepada Tuhan. (sri)

 

 

Editor : Sandy Sri Yuwana
#Adat #tulungagung #jamasan #telaga buret #budaya #tradisi #ritual