Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ulur-Ulur wujud tanda Syukur Melimpahnya Air di Desa Ngentrong

Rinto Wahyu Hidayat • Sabtu, 10 Mei 2025 | 02:56 WIB
Menjaga warisan leluhur, ulur-ulur di Desa Ngentrong Tulungagung
Menjaga warisan leluhur, ulur-ulur di Desa Ngentrong Tulungagung

Radar Tulungagung – Desa Ngentrong, Kecamatan Campurdarat, tetap teguh menjaga warisan leluhur. Hal itu tergambar jelas saat masyarakat setempat menggelar tradisi tahunan ulur-ulur.

Tradisi tersebut berupa sebuah upacara adat sebagai wujud syukur atas berkah air yang tak pernah kering, bahkan ketika musim kemarau.

Tradisi yang digelar pada Jumat Legi (9/5) di aula kantor desa setempat ini tak hanya merekatkan kembali hubungan spiritual warga dengan alam, tetapi juga menunjukkan betapa nilai-nilai budaya selalu hidup di tengah masyarakat.

Proses ulur-ulur di Desa Ngentrong
Proses ulur-ulur di Desa Ngentrong

Tradisi ulur-ulur ini merupakan bagian dari sedekah bumi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Kepala Desa Ngentrong, Samuji, 50, menuturkan bahwa kegiatan ulur-ulur adalah bentuk nyata rasa terima kasih masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan air yang menghidupi sawah dan ladang mereka.

“Air di sini tidak pernah surut, meski kemarau panjang datang. Inilah bentuk syukur kami,” ujar Samuji, putra asli Ngentrong yang menjabat sejak 2019.

Kepala Desa Ngentrong Tulungagung, Samuji, saat peringatan budaya ulur-ulur
Kepala Desa Ngentrong Tulungagung, Samuji, saat peringatan budaya ulur-ulur

Upacara adat dimulai dengan tasyakuran dan penyerahan ambeng−nasi lengkap dengan lauk ayam kampung yang disiapkan oleh warga.

Khususnya para pemilik sawah dan pelaku usaha lokal. Tahun ini, sedikitnya 70 hingga 100 ambeng dikumpulkan dan sebagian besar digunakan dalam prosesi tasyakuran di balai desa.

Ritual berlanjut dengan arak-arakan menuju Telaga Ngembel yang terletak di selatan kantor desa.

Prosesi ulur-ulur di Desa Ngentrong Tulungagung
Prosesi ulur-ulur di Desa Ngentrong Tulungagung

Warga, tokoh masyarakat, sesepuh desa, serta perangkat desa dan para petani bergotong royong dalam prosesi yang khidmat.
Telaga Ngembel Sakral dan Sarat Legenda.

“Telaga ini bukan sekadar sumber air, melainkan juga saksi sejarah dan pusat spiritual kami. Bahkan terkait dengan pusaka Tombak Kyai Upas dari legenda Baru Klinting,” tutur Samuji.

Tahun ini, kegiatan upacara tradisi adat ulur-ulur mendapat dukungan penuh dari elemen pemerintahan desa, BPD, LPM, PKK, karang taruna, hingga tokoh masyarakat.

Pemerintah Desa Ngentrong pun berharap adanya perhatian lebih dari pihak kabupaten, terutama dalam bentuk dukungan dana pelestarian budaya seperti pergelaran campursari dan ketoprak.

“Kami ingin ulur-ulur tak hanya jadi acara tahunan. Jangan lupakan akar sejarah,” ujarnya.

Prosesi ulur-ulur di Desa Ngentrong Tulungagung
Prosesi ulur-ulur di Desa Ngentrong Tulungagung

Telaga Ngembal bukan sekadar nama, di sinilah tombak pusaka Kiai Upas berasal, pusaka yang kini dijunjung sebagai simbol Kabupaten Tulungagung.

"Tapi kenapa tradisi ulur-ulur di sini terus luput dari perhatian? Saatnya Pemkab Tulungagung bersikap adil: lestarikan budaya Ngentrong, jangan hanya Mburet yang dibantu! Agar potensi wisata budaya yang mengangkat nama desa,” imbuhnya.

Dengan pelestarian ini, Desa Ngentrong bukan hanya menjaga warisan leluhur, melainkan juga merawat keharmonisan antara manusia dan alam sebagai jati diri budaya Jawa.

Prosesi ulur-ulur di Desa Ngentrong Tulungagung
Prosesi ulur-ulur di Desa Ngentrong Tulungagung

"Semoga, Telaga Ngembel bisa sejajar pamornya dengan Telaga Mburet di desa tetangga," pungkas Samuji dengan penuh harapan. (*/rin/c1)

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#ulur ulur #tulungagung #Ngentrong #budaya