KOTA, Radar Tulungagung – Puluhan umat Buddha memadati Vihara Buddha Loka Tulungagung malam ini untuk mengikuti perayaan Waisak 2569 BE.
Suasana hening, khidmat, dan penuh makna menyelimuti prosesi ritual yang menjadi puncak dari rangkaian peringatan kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha Gautama.
Dalam perayaan tersebut Umat Buddha di Tulungagung mengangkat tema Kebijaksanaan Sebagai Dasar Keluhuran Bangsa.
Umat Buddha sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian ritual pada dini hari (13/5) tersebut.
Terlihat mereka mengenakan pakaian putih sebagai simbol kesucian dan kesederhanaan.
Sambil membawa bunga, lilin, dan dupa yang kemudian digunakan dalam ritual itu.
Perayaan dimulai sejak sore hari dengan dua rangkaian acara inti.
Yaitu yang pertama adalah ritual penutupan Sebulan Pendalaman Dhamma (SPD), kemudian ritual inti berupa puja bakti detik-detik peringatan Waisak.
Prosesi utama berlangsung sekitar pukul 22.00 WIB, ditandai dengan penyalaan lilin Waisak.
Lilin-lilin tersebut melambangkan harapan dan doa umat agar kedamaian dan kebijaksanaan menyinari seluruh makhluk hidup.
Kemudian para umat mengelilingi altar utama vihara sebanyak tiga kali, sembari memanjatkan doa dalam hening. Pembacaan paritta suci dan meditasi bersama yang dipimpin oleh seorang Samanera Panyacchando mengakhiri rangkaian ritual hari raya umat Buddha malam itu.
Baca Juga: Viral! Buat Meme Jokowi dan Prabowo, Seorang Mahasiswi di ITB Ditangkap Polisi
Romo, Sugianto Ghandika mengatakan "Kita harus meneladani Sang Buddha agar bisa mencapai kesempurnaan. Yaitu dengan tekad yang kuat dan kebijaksanaan," katanya.
Samanera Panyacchando, melalui koran ini berpesan kepada seluruh masyarakat bahwasanya kita harus menumbuhkan kebijaksanaan dalam diri. Tidak boleh hanya mengandalkan pengetahuan saja.
"Tapi juga harus memiliku kebijaksanaan dalam berperilaku dan beretika. Kemudian juga harus mengedepankan bijaksana dalam berbangsa dan bernegara," ungkapnya.
Kemudian prosesi ritual perayaan hari ra0ta0 umat Buddha tersebut diakhiri dengan pemercikan Tirta Paritta kepada seluruh umat, dan ditutup dengan namakara patha. Yaitu penghormatan sebanyak tiga kali kepada altar Buddha
Perayaan Waisak di Tulungagung menjadi bukti nyata bagaimana keragaman dan toleransi bisa hidup berdampingan dalam harmoni.
Dengan semangat welas asih dan pembebasan dari penderitaan, umat Buddha berharap nilai-nilai luhur ajaran Sang Buddha dapat terus menginspirasi kehidupan sehari-hari. (Sri)
Editor : Sandy Sri Yuwana