TULUNGAGUNGAN - Kabupaten Tulungagung ialah salah satu daerah yang menjadi bagian daripada Provinsi Jawa Timur yang identik dengan seni dan budaya yang kental, terutama dalam hal kesenian rakyat.
Kabupaten Tulungagung termasuk daerah yang menjunjung tinggi kesenian rakyatnya.
Reyog Kendang menjadi salah satu kesenian rakyat yang popular di Jawa Timur.
Hal ini dibuktikan dengan adanya pemecahan rekor muri pada tahun 2015 silam.
Fenomena bersejarah ini bukanlah tanpa alasan.
Kegiatan akbar ini selain untuk menyajikan kesenian Reyog Kendang dengan secara ‘baru’, kegiatan ini juga bertujuan untuk memecahkan rekor muri penari Reyog Kendang terbanyak dan pengesahan tari Reyog Kendang sebagai kesenian khas milik Kabupaten Tulungagung.
Fenomena tersebut berdampak luar biasa terhadap iklim kesenian di Tulungagung, tetapi ternyata dampak tersebut juga berpengaruh pada kesenian rakyat lain di Tulungagung.
Euforia Reyog Kendang justru menimbulkan kesenjangan kesenian rakyat di Tulungagung.
Kabupaten Tulungagung memilki 4 kesenian rakyat yang eksis di kalangan masyarakat Tulungagung, antara lain:
Reyog Kendang
Reyog Kendang Tulungagung merupakan seni tari khas Kabupaten Tulungagung.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada 21 April 2021 dengan Siswaya, seorang maestro Reyog Kendang, beliau mengatakan bawasanya Reyog Kendang adalah bentuk seni tari yang memadukan elementari dan musik dalam pertunjukannya.
Tarian ini disajikan oleh enam penari dan
masing-masing penari Reyog Kendang akan membawa serta memainkan kendang dhodog dalam sajian tarinya.
Secara fungsional, kesenian Reyog Kendang berfungsi sebagai tarian selamat datang serta hiburan masyarakat.
Secara filosofis, tarian ini menggambarkan suatu bentuk semangat gotong royong antarumat manusia.
Jaranan Sentherewe
Jaranan Sentherewe merupakan seni tari dari Kabupaten Tulungagung.
Secara sederhana, kesenian ini merupakan seni tari yang menyajikan tarian penunggang kuda.
“Sentherewe” diambil dari kata senthe dan rawe yang bermakna tumbuhan gatal.
Hal ini didasari oleh gerakan tarian dari jaranan sentherewe yang berenergi, seperti orang yang sedang mengidap gatal-gatal.
Secara fungsional, Jaranan Sentherewe berfungsi sebagai hiburan masyarakat.
Di sisi lain, secara filosofis, Jaranan Sentherewe dapat diartikan sebagai perlawanan manusia dalam mengendalikan hawa nafsu dalam dirinya. (Wawancara Eko Siswaya, seniman jaranan, 1 September 2024)
Kentrung Tulungagung
Kentrung Tulungagung merupakan seni bercerita/bertutur.
Kesenian kentrung beranggotakan lima personel termasuk dalang yang merangkap sebagai pemain kendang.
Cerita yang disajikan oleh kesenian kentrung merupakan cerita dakwah Islam, tetapi Kentrung Tulungagung memiliki ciri khas cerita yang berbeda, yakni menyajikan cerita rakyat/legenda yang tumbuh di Kabupaten Tulungagung.
Hal ini dilakukan oleh Yayak.
Priasmara selaku pendiri sanggar Kentrung Gedhang Godhog dalam pertunjukan kentrungnya.
Kentrung Tulungagung juga memiliki garap/gaya pertunjukan yang khusus yang dikenal dengan gaya mbok gimahan.
Menurut Yayak Priasmara, gaya mbok gimahan identik dengan permainan kata yang berwujud
pantun/parikan.
“Kentrung Tulungagung memiliki gaya khas mbok gimahan yang menjadi pembeda dari kesenian kentrung di wilayah lain. Kentrung Tulungagung merupakan seni bertutur/bercerita yang diiringi oleh alat musik perkusif.” (Wawancara Yayak Priasmara, April 2023).
Dalam segi musikalitas, kesenian kentrung Tulungagung identik dengan permainan pola ritmis dan senggak.
Hal ini menjadi ciri khas dari kesenian kentrung.
Jedor
Jedoran merupakan kesenian rakyat yang berada di Tulungagung.
Jedor merupakan seni musik tradisional yang terdiri dari enam alat musik yaitu tipung lanang, tipung wadon, kempyang, terbang, jedor, dan kendang.
Musikalitas dari kesenian jedor didominasi oleh permainan ritmis. Kesenian jedor menyajikan lagu-lagu bertema islami.
Hal ini dikarenakan kesenian jedor merupakan kesenian yang menjadi sarana untuk menyebarkan agama Islam. Menurut Beni Harjanto, selaku ketua Paguyuban Jedor Karya Wantah, di dalam artikel Radar Tulungagung, menyebutkan bahwa kesenian jedor ini awalnya berfungsi sebagai syiar Islam dan merupakan seni musik tradisional sejak era Wali Sanga sekitar 1500—1600 Masehi.
Eksistensi dari kesenian tersebut sempat berada dalam popularitas pada masanya, sebelum akhirnya terjadi kesenjangan eksistensi antar kesenian rakyat tersebut.
“Kreteg” merupakan karya komposisi musik yang berangkat dari fenomena kesenjangan kesenian rakyat di Tulungagung.
Menurut pengkarya, fenomena ini menimbulkan banyak dampak, antara lain: muncul perasaan sentimental antarseniman, iklim kesenian yang tidak sehat (seni sebagai ajang persaingan antarkelompok).
Perasaan saling menyalahkan antarseniman dan pemerintah kebudayaan daerah dan gejolak antar seniman.
Faktor-faktor tersebut mendorong pengkarya untuk menciptakan karya “Kreteg” adalah perasaan miris terhadap iklim kesenian di Tulungagung saat ini, menurut pengkarya beragamnya jenis kesenian rakyat, seharusnya menciptakan sebuah keberagam dan bukti kekayaan kesenian rakyat, bukan malah menimbulkan kesenjangan yang berakibat pada rusaknya iklim berkesenian di Tulungagung.
Dalam karya “Kreteg”, pengkarya memiliki gagasan untuk menciptakan 4 karya dalam karya musik eksperimen interaktif.
Maksud dari karya musik eksperimen interaktif, pengkarya melalukan eksperimen melalui karya musik interaktif, dalam eksperimennya pengkarya melakukan pengamatan terhadap karakteristik antar generasi melalui karya musik interaktif, hal ini bertujuan untuk menemukan metode yang lahir dari penggabungan karakteristik antargenerasi.
Dalam karya ini, pengkarya melibatkan lapisan masyarakat dari anak anak hingga dewasa (lintas generasi) untuk berkontribusi dalam karya ini.
Hal ini bertujuan untuk melakukan eksperimen terhadap kesenjangan yang terjadi, selain untuk mengamati kebiasaan/karakteristik antargenerasi, pengkarya ingin membuktikan tentang kesenjangan yang tercipta lahir secara alami atau merupakan dampak dari sentimentil antar seniman.
Karya musik “Kreteg” terbagi menjadi empat bagian dan setiap bagian karya ini disajikan di 4 tempat yang berbeda (wilayah selatan, wilayah timur, wilayah utara, dan pusat kabupaten).
Hal ini didasari oleh keinginan pengkarya untuk menyajikan karya musik yang berangkat dari situasi kesenian rakyat di tempat kesenian tersebut populer.
Menurut pengkarya, esensi dan makna dari karya ini akan lebih tersampaikan karena karya ini merupakan karya yang berangkat dari seni untuk rakyat.
Karya ini terbagi menjadi empat karya.
Yaitu tutur, laku, angan, Kreteg.
Setiap bagian dalam karya ini memiliki alur dan tujuan masing-masing yang akan membentuk ke dalam satu karya komposisi musik utuh.
Setiap bagian memiliki subbagian dan disajikan di 4 lokasi yang berbeda, antara lain: wilayah timur, selatan, utara& pusat kabupaten.
Wilayah timur dipilih berdasarkan wilayah yang menjadi pusat kesenian jaranan sentherewe (Bukur, sumbergempol).
Wilayah selatan dipilih berdasarkan wilayah yang menjadi pusat kesenian jedor & kentrung (Campurdarat, Tulungagung).
Wilayah utara dipilih berdasarkan wilayah yang menjadi pusat kesenian Reyog Kendang (Gendingan, Kedungwaru). Wilayah pusat kabupaten dipilih berdasarkan titik kumpul seluruh kesenian rakyat di Tulungagung (alun-alun).
Setiap karya musik yang disusun bertujuan untuk menafsir situasi kesenian rakyat dan mengamati karakteristik pemusik generasi muda& senior.
Karya I berfokus dalam menafsir situasi kesenian jedor dan kentrung kedalam karya musik eksploratif.
Karya II berfokus dalam menafsir situasi kesenian Reyog Kendang Tulungagung ke dalam karya musik eksploratif.
Karya III berfokus dalam menafsir situasi kesenian jaranan sentherewe dan karya IV berfokus dalam menciptakan karya musik interaktif lintas generasi untuk membuktikan bawasanya kesenjangan kesenian merupakan dampak dari egosentris/perbedaan pola pikir yang mampu disikapi dengan menyamakan pola pikir.
Hal ini mencoba diterapkan pengkarya melalui karya musik lintas generasi.
Hasil akhir dari karya musik “Kreteg” ini bukan hanya sebuah karya musik inovatif atau eksploratif, melainkan juga eksperimen untuk menciptakan sebuah metode/tawaran yang mampu menjadi solusi dari fenomena kesenjangan kesenian rakyat di Tulungagung.(*)
Editor : Vidya Sajar Fitri