TULUNGAGUNG - Desa Sendang, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, selama ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil susu perah.
Namun siapa sangka, desa ini juga menyimpan potensi lain yang tak kalah menarik: produk kripik singkong rasa gadung yang diolah oleh pelaku UMKM di Tulungagung.
Keripik ini memiliki rasa khas yang berbeda dari keripik singkong pada umumnya. Meski nama gadung biasanya identik dengan tanaman beracun, namun rasa pada keripik ini hanyalah varian cita rasa unik yang dikembangkan oleh warga Tulungagung, bukan benar-benar berbahan gadung. Teksturnya renyah, dan rasanya gurih menggoda.
“Bagi warga Desa Sendang Tulungagung, keripik ini sudah sangat dikenal dan menjadi bagian dari keseharian,” ujar salah satu pelaku UMKM sambil menunjukkan tumpukan keripik yang sedang dijemur di halaman rumahnya.
Proses pembuatan keripik khas Tulungagung ini memakan waktu cukup lama, yakni sekitar empat hari. Hal tersebut dilakukan demi memastikan keripik benar-benar kering sempurna dan siap untuk digoreng maupun dijual.
Dalam proses ini, sinar matahari menjadi kunci utama. Jika cuaca mendung atau hujan, proses pengeringan bisa terganggu. Bila keripik tidak kering dengan maksimal, maka kualitasnya menurun dan tidak layak konsumsi.
Meski prosesnya cukup menantang, para pengusaha rumahan di Tulungagung ini tak menyerah.
Justru, keripik singkong rasa gadung dari Desa Sendang Tulungagung ini telah berhasil menembus pasar luar daerah seperti Jombang, Blitar, Kediri, hingga luar negeri seperti Malaysia dan Hongkong. Produk ini biasanya dipasarkan dalam bentuk mentah dan siap goreng.
Inovasi dan ketekunan masyarakat Desa Sendang Tulungagung dalam mengembangkan potensi lokal ini membuktikan bahwa produk desa pun mampu bersaing di pasar global.
Tak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga membawa nama desa semakin dikenal luas.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz