TULUNGAGUNG- Kasus penyakit leptospirosis di Tulungagung mengalami lonjakan drastis sepanjang tahun 2025.
Hingga Mei, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mencatat sebanyak 9 kasus dengan 5 di antaranya meninggal dunia.
Tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 56 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di Tulungagung.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, mengungkapkan bahwa lonjakan ini sangat mengkhawatirkan.
“Jika dibandingkan, pada 2023 sepanjang tahun hanya ada 15 kasus dengan 2 kematian (CFR 13 persen),” katanya Rabu (21/5/2025).
Sementara tahun 2024 terdapat 19 kasus dengan 3 kematian (CFR 16 persen). Tahun ini baru lima bulan sudah 9 kasus dan 5 meninggal.
Seluruh pasien yang terjangkit, termasuk yang meninggal dunia, diketahui beraktivitas utama di ladang dan sawah.
Faktor musim hujan serta banjir yang menyebabkan banyak genangan air disebut menjadi salah satu penyebab cepatnya penyebaran bakteri Leptospira, yang berasal dari kencing tikus.
“Penyakit ini sangat berbahaya karena bakteri bisa masuk melalui luka sekecil apapun, apalagi warga kita banyak yang bekerja di sawah tanpa pelindung seperti sepatu boots atau sarung tangan,” jelas Desi.
Dia menambahkan, minimnya pemahaman masyarakat terhadap gejala leptospirosis membuat banyak penderita terlambat mendapat penanganan medis.
“Gejalanya sering dikira penyakit biasa. Begitu ke rumah sakit sudah dalam kondisi berat,” katanya.
Dinkes Tulungagung mengimbau warga, terutama yang bekerja di area persawahan dan perkebunan.
Di lokasi tersebut, warga agar lebih waspada dan mengenali gejala-gejala leptospirosis seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, dan mata memerah.
“Kami terus gencarkan edukasi ke masyarakat agar mengenali bahaya leptospirosis dan pentingnya memakai perlindungan saat bekerja di tempat yang berisiko,” pungkasnya.(sri)
Editor : Didin Cahya Firmansyah