NGUNUT, Radar Tulungagung - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung bersama forum kordinasi pimpinan daerah (forkopimda) melakukan peninjauan langsung ke Kecamatan Ngunut dalam rangka pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peninjauan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Ahmad Baharudin, kapolsek, danramil, serta jajaran forkopimcam, sebagai bentuk koordinasi kolektif yang solid dalam mendukung keberlanjutan program nasional tersebut.
Dalam kesempatan itu, hadir pula tim dari KIP Foundation/Klinik BUMDesa Jawa Timur yang bekerja sama dengan Sampoerna untuk memberikan asesmen terhadap program berbasis ketahanan pangan di desa.
Hadirnya pihak eksternal ini sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam membentuk desa ideal yang mandiri dan berdaya saing, dengan Desa Ngunut sebagai prototipe.
Direktur KIP Foundation, Nova Hariyanto menyampaikan, Ngunut dipilih karena dinilai memiliki kesiapan dan komitmen kuat dalam mewujudkan kemandirian pangan.
“Desa ini memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan mendukung penuh program MBG. Ini adalah desa pertama yang mampu memenuhi kebutuhan SPPG secara mandiri,” ungkap Nova.
Dia menambahkan, KIP Foundation sebelumnya telah menyeleksi 100 desa di Jawa Timur dan menetapkan empat wilayah prioritas: Malang, Ngawi, Kediri, dan Tulungagung.
“Ngunut kami pilih sebagai representasi Tulungagung karena mampu menunjukkan sinergi yang kuat dalam mewujudkan ketahanan pangan secara holistik,” lanjutnya.
Program MBG yang merupakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto bertujuan membentuk generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan kuat.
Pelaksanaan di lapangan dijalankan oleh SPPG yang terdiri dari kepala satuan, ahli gizi, akuntan, dan 50 relawan dari masyarakat.
Yayasan Rajawali Unggul Berdaya sebagai mitra resmi BGN saat ini memimpin dua SPPG aktif di Kecamatan Boyolangu dan Ngunut.
Sejak beroperasi pada Januari dan Mei 2025, dua satuan ini telah menjangkau 2.763 siswa di Boyolangu dan 2.620 siswa di Ngunut dari jenjang PAUD hingga SMA yang tersebar di 11 desa.
Direktur Yayasan Rajawali Unggul Berdaya, Joko Ibrahim, menekankan bahwa selain berdampak pada peningkatan gizi anak-anak, program MBG juga mendorong perputaran ekonomi lokal melalui pelibatan petani, peternak, BUMDes, koperasi, dan UMKM desa.
“SPPG adalah jawaban atas pembangunan berkelanjutan desa. Ini patut menjadi prioritas pembangunan jangka pendek daerah,” tegasnya.
Melalui potensi sumber daya alam dan jumlah peserta didik yang besar, Tulungagung dinilai layak menjadi paket lengkap dalam menciptakan desa mandiri dan berketahanan pangan yang berkelanjutan. (arm/c1/din)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz