TULUNGAGUNG- Jenazah Najma Herra Ramadhani, warga Dusun Sendang Bedog, Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung telah dimakamkan pada Jumat (23/5/2025) sekitar pukul 09:45 WIB.
Bocah tujuh tahun tersebut merupakan korban hanyut arus sungai di Desa Samar bersama sang ibu Eti Puspitasari, 38, yang telah dimakamkan pada Kamis (23/5/2025) usai proses pemulasaraan jenazah di RSUD dr Iskak Tulungagung.
Kepala Dusun Sendang Bedok, Gunawan, yang turut hadir di lokasi, menuturkan rencana pemakaman Najma semula dijadwalkan Kamis malam setelah pemulasaraan jenazah di RSUD dr Iskak dan dibawa ke rumah duka.
Namun kondisi jalan tanah yang licin dan tak memungkinkan membuat prosesi baru dilakukan pagi hari. “Alhamdulillah, prosesinya lancar. Semalam sebenarnya masyarakat sudah siap, tapi karena hujan sangat deras, kami putuskan dimakamkan pagi tadi,” ungkapnya.
Jenazah Najma Herra Ramadhani, 7, dimakamkan berdampingan dengan makam Eti Puspitasari, 38, sang ibu yang telah ada sebelumnya, di pemakaman Dusun Sendang Bedok yang berjarak beberapa sekitar dua kilometer dari rumah duka.
Prosesi pemakaman dihadiri keluarga besar korban, termasuk sang suami, Irawan, 38, juga ayah korban, serta kerabat dekat. Orang tua Irawan tidak hadir karena faktor usia kondisi fisik yang dikhawatirkan tak kuat menempuh perjalanan.
Gunawan menambahkan, pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah.
“Keluarga sudah ikhlas, memahami ini adalah musibah, bukan karena unsur kesengajaan atau kekerasan. Mereka pasrah,” katanya lirih.
Dari perwakilan pemerintah desa, termasuk sekretaris desa dan staf lainnya, turut hadir menyampaikan belasungkawa di rumah duka.
Gunawan juga menyebut bahwa acara tahlil dan yasin akan tetap dilangsungkan malam ini, sementara peringatan tujuh harian akan digelar esok malam, dihitung sejak hari kejadian pada Senin (19/5/2025) lalu.
Gunawan menyampaikan pesan kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem.
“Saya harap warga lebih berhati-hati jika hujan lebat, terutama yang tinggal di dekat tanah tinggi atau aliran air. Kita harus bisa meminimalisir risiko korban jiwa,” tandasnya.
Dia menambahkan, peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa alam bisa berubah menjadi ancaman, dan kebersamaan warga menjadi kunci utama dalam menghadapi duka dan musibah.(rin/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah