TULUNGAGUNG - Asap yang mengepul dari dapur-dapur rumah di Desa Talun Kulon, Kecamatan Bandung, Tulungagung, bukan sekadar tanda aktivitas memasak peyek pindang.
Aktivitas menjadi simbol perputaran roda ekonomi lokal di selatan Tulungagung ini yang tumbuh secara organik melalui peyek pindang, camilan gurih hasil racikan tangan-tangan warga.
Sudah puluhan tahun, usaha peyek pindang menjadi salah satu tumpuan ekonomi rumah tangga di desa ini yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan Tulungagung.
Tanpa mesin canggih, tanpa pabrik besar, warga memproduksi peyek pindang secara mandiri dari dapur rumah masing-masing.
Prosesnya produksi peyek pindang dilakukan secara tradisional. Mencampur adonan tepung dengan potongan ikan pindang, menggoreng dalam minyak panas, lalu membungkusnya secara manual.
Namun yang membuat model usaha ini istimewa bukan hanya rasa peyek pindang, melainkan semangat gotong royong yang menyertainya.
Banyak pelaku usaha peyek pindang khas Tulungagung ini yang tak hanya memproduksi sendiri, tetapi juga membuka ruang bagi tetangga sekitar untuk ikut terlibat.
Ada yang membantu menggoreng, mengemas, hingga menitipkan hasil produksi ke pengepul lokal. Pola ini memungkinkan lebih banyak warga, khususnya ibu rumah tangga, mendapatkan penghasilan tambahan tanpa meninggalkan peran domestiknya.
Di tengah geliat mandiri ini, Pemerintah desa (Pemdes) Talun Kulon mulai membaca potensi besar yang tersembunyi di balik wajan-wajan penggorengan.
Melalui program pembinaan UMKM, pelatihan produksi higienis, dan fasilitasi pemasaran, Pemdes memberi dukungan nyata bagi pelaku usaha kecil.
Bahkan, dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), sektor UMKM mulai diposisikan sebagai pilar penting dalam pembangunan ekonomi desa.
Baca Juga: Soto Buthek Tulungagung, Kuliner Murah dengan Cita Rasa Menggugah Selera
Tak berhenti di situ, sinergi dengan dinas terkait juga mulai dijajaki. Tujuannya tak lain adalah membuka akses terhadap permodalan mikro, pelatihan kewirausahaan, hingga pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana promosi dan penjualan.
Meski langkah-langkah ini masih dalam tahap awal, namun semangat kolaborasi antara warga dan pemerintah lokal menjadi modal sosial yang sangat kuat.
Harga peyek pindang yang dijual masih sangat terjangkau, namun dampaknya terhadap ekonomi keluarga tak bisa dipandang remeh.
Sebagian rumah tangga bahkan menjadikan usaha ini sebagai penghasilan utama. Lebih dari itu, keberadaan usaha peyek pindang juga menjaga warisan kuliner lokal agar tetap hidup di tengah serbuan makanan modern.
Desa Talun Kulon kini menjelma sebagai contoh desa yang bergerak dari bawah dari wajan, dapur, dan kerja sama antarwarga.
Dengan pendampingan yang tepat dan kebijakan yang berpihak, rempeyek pindang bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang harapan: bahwa kemandirian ekonomi bisa dimulai dari rumah sendiri.(rin/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah