Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tempe Suraten dari Desa Suwaru Tulungagung Miliki Aroma Khas dan Jadi Buruan Pelaku Usaha Kuliner dan Katering, Sosok Perempuan Tangguh Hidupkan UMKM

Rinto Wahyu Hidayat • Minggu, 25 Mei 2025 | 19:00 WIB

 

Usaha tempe Suratin di Desa Suwaru, Kecamatan Bandung, Tulungagung, jadi denyut nadi ekonomi dan UMKM di desa.
Usaha tempe Suratin di Desa Suwaru, Kecamatan Bandung, Tulungagung, jadi denyut nadi ekonomi dan UMKM di desa.

TULUNGAGUNG– Siapa sangka, dari sudut kecil di Desa Suwaru, Kecamatan Bandung, Tulungagung, muncul aroma tempe hangat yang menggoda dan menjadi sumber penghidupan puluhan tahun lamanya.

Bukan dari pabrik besar di Tulungagung, melainkan dari tangan-tangan sederhana milik Suraten, sosok perempuan tangguh yang setia mengolah kedelai menjadi tempe gurih nan alami.

Usaha rumahan di sisi selatan Tulungagung ini sekilas tampak sederhana sebuah dapur dengan tumpukan daun pisang, bak rendaman kedelai, dan meja kayu panjang tempat tempe dirakit.

Namun siapa pun yang mencicipi hasilnya akan segera sadar. Ini bukan sekadar tempe biasa.

“Tempe ini beda. Rasanya gurih, aromanya khas, dan tanpa bahan pengawet. Orang-orang sudah banyak yang langganan,” ujar Suraten sambil tersenyum.

Dengan produksi setengah kuintal per hari, tempe Suraten laris manis di pasar Kecamatan Bandung serta desa-desa tetangga.

Yang lebih menarik, permintaan belakangan ini kian meningkat bukan hanya dari pembeli rumahan, tetapi juga dari pelaku usaha kuliner dan katering kecil di Tulungagung.

Potensi usaha Suraten mencerminkan denyut hidup UMKM desa yang kerap terabaikan.

Di balik kesederhanaannya, usaha ini menyimpan peluang besar. Dari ketahanan pangan lokal, pemberdayaan perempuan, hingga kemandirian ekonomi desa.

Dengan dukungan teknologi, pelatihan pengemasan, dan akses pemasaran digital, produk tempe rumahan seperti milik Suraten bisa saja menembus pasar kota bahkan lebih jauh, menembus pasar ekspor sebagai produk pangan sehat dan organik asal Indonesia.

Desa Suwaru pun menyimpan potensi serupa. Banyak rumah tangga memiliki keahlian mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai jual tinggi.

Bila digarap serius, desa ini bisa menjadi sentra UMKM berbasis pangan lokal.

Kini, pertanyaannya: siapa yang berani berinvestasi pada tempe dan UMKM desa? Karena jelas, dari dapur-dapur kecil seperti milik Suraten, aroma kemajuan sudah mulai merekah.(rin/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #umkm #Produksi Tempe #desa suwaru