TULUNGAGUNG-Di Tulungagung, Jawa Timur, waktu seakan melambat saat secangkir kopi ijo disajikan di meja. Aromanya khas, warnanya unik kehitaman dengan semburat hijau dan kisahnya panjang.
Itulah kopi kebanggaan warga Tulungagung, yang sejak tahun 1970-an tak hanya jadi teman begadang, tapi juga simbol kehangatan dan kebersamaan.
Tak berlebihan jika Tulungagung dijuluki Kota Seribu Warung Kopi. Di setiap sudut kota, kita bisa menemukan warung sederhana tempat orang-orang dari berbagai latar bercengkrama.
Di balik keramahan itu, Kopi Ijo Tulungagung hadir sebagai pengikat percakapan.
“Kalau di tempat lain orang minum kopi untuk mengusir kantuk, di sini kopi adalah cara kami bercerita,” ujar Hariyanto, pemilik warung kopi legendaris di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung, yang sudah berdiri sejak 1982.
Kopi Ijo Tulungagung memang istimewa. Berasal dari campuran biji kopi dan kacang hijau, kopi ini mengalami proses sangrai dengan cara tradisional menggunakan wajan tanah liat dan kayu bakar.
Proses ini tidak hanya mempertahankan rasa, tetapi juga nilai budaya. Setelah disangrai, biji kopi digiling hingga halus. Saat diseduh, aroma lembutnya menyapa hangat.
Kopi Ijo Tulungagung pun rendah kafein, menjadikannya lebih bersahabat bagi lambung. Tak heran bila kopi ijo digemari lintas generasi, dari petani hingga pekerja kantoran.
Salah satu budaya unik yang menyertai kopi ini adalah “nyethe”, yaitu melukis batang rokok dengan ampas kopi. Seni yang lahir dari kreativitas rakyat ini kini jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal.
Di Tulungagung, terdapat lebih dari 1.300 warung kopi aktif di wilayah ini, dan sekitar 25 persen di antaranya menyajikan kopi ijo sebagai menu utama.
Itu belum termasuk para pengrajin kopi rumahan yang kini mulai berkembang berkat pemasaran digital.
“Kopi ijo bukan hanya minuman, tapi peluang ekonomi. Banyak ibu rumah tangga sekarang ikut memproduksi bubuk Kopi Ijo Tulungagung secara mandiri,”
Bagi siapa saja yang berkunjung ke Tulungagung, secangkir kopi ijo tak hanya menawarkan rasa, tapi juga cerita tentang tradisi, tentang keluarga, dan tentang rasa cinta terhadap tanah kelahiran.
Karena di setiap seduhan kopi ijo, ada sepotong kisah yang tak pernah benar-benar selesai.(rin/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah