TULUNGAGUNG - Di balik riuhnya kota Tulungagung yang terus tumbuh dan berkembang, terdapat sebuah warung kopi yang telah menjadi saksi perjalanan waktu selama lebih dari empat dekade.
Warung Kopi Waris, yang terletak di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung, bukan sekadar tempat ngopi biasa. Namun ruang nostalgia, budaya, dan cita rasa yang tak lekang zaman.
Didirikan pada tahun 1978 oleh almarhum Pak Waris, warung ini awalnya hanya melayani warga sekitar dengan menyuguhkan kopi racikan sendiri. Kondisi di Tulungagung tentu waktu itu masih sedikit warung kopi.
Seiring waktu, popularitasnya tumbuh secara organik dari mulut ke mulut. Setelah Pak Waris wafat, usaha ini diteruskan oleh istrinya, Ibu Sutijah yang akrab disapa Mak Waris. Di tangan Mak Waris, warung kopi ini menjelma menjadi ikon kuliner lokal yang melegenda.
Warung Kopi Waris hanya menyajikan dua jenis kopi. Kopi tubruk dan kopi susu. Namun kesederhanaan menu ini justru menjadi kekuatannya.
Kedua jenis kopi tersebut menggunakan kopi ijo, kopi khas Tulungagung yang memiliki rasa lembut, aroma khas, dan warna kehijauan akibat proses sangrai alami dengan campuran kacang hijau tanpa pewarna tambahan.
Yang menarik, di tengah kenaikan harga bahan pokok dan tren kedai kopi modern yang mahal. Warung Kopi Waris tetap mempertahankan harga terjangkau sebagai bentuk konsistensi pada nilai kerakyatan.
Bukan hanya soal rasa, Warung Kopi Waris juga menjadi pelestari budaya "nyethe" seni menghias batang rokok dengan ampas kopi. Tradisi ini dikenal dengan sebutan lethek menjadi cethe.
Aktivitas ini tidak hanya menjadi bagian dari gaya ngopi, tapi juga simbol keakraban dan identitas lokal.
Warung ini memiliki sekitar 25 meja besar yang hampir selalu terisi penuh, terutama pada malam hari. Dari petani, buruh, seniman, hingga pegawai negeri, semua duduk setara dalam kehangatan warung yang penuh cerita.
Baca Juga: Manfaat Kopi Tanpa Gula Rahasia Nikmat dan Sehat di Balik Secangkir Hitam
Kopi bubuk racikan Warung Kopi Waris tidak hanya diminati di tempat, tapi juga telah menembus pasar luar daerah bahkan hingga luar negeri.
Bubuk kopi dijual dalam berbagai kemasan rentengan, kardus, tas, hingga kiloan dengan varian harga. Para wisatawan sering membawa pulang kopi ini sebagai oleh-oleh khas Tulungagung.
Warung ini terletak sekitar 15 menit dari pusat kota Tulungagung. Meskipun sederhana dari luar, atmosfer di dalamnya mengajak siapa saja untuk duduk, menyeruput kopi hangat, dan hanyut dalam percakapan.
Warung Kopi Waris bukan hanya sekadar tempat jual beli kopi. Namun rumah bagi kenangan, ruang tumbuh bagi warisan lokal, dan bukti bahwa kesederhanaan bisa menjadi kekuatan yang abadi.(rin/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah