Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tulungagung Miliki Tradisi Nyethe yang Bisa Menjelma sebagai Identitas Kota dan Punya Makna Lebih Dalam Tak Tergerus Zaman

Rinto Wahyu Hidayat • Minggu, 25 Mei 2025 | 21:45 WIB
Tradisi lokal di Tulungagung berupa nyethe yang tak hanya menyajikan rasa, tapi juga kisah dan kehangatan yang terus diwariskan lintas generasi.
Tradisi lokal di Tulungagung berupa nyethe yang tak hanya menyajikan rasa, tapi juga kisah dan kehangatan yang terus diwariskan lintas generasi.

TULUNGAGUNG-Di Tulungagung, sebatang rokok tidak hanya dihisap, tapi juga dilukis dari ampas kopi. Istilah lokal disebut dengan nyethe.

Itulah nyethe tradisi lokal di Tulungagung yang tak hanya menyajikan rasa, tapi juga kisah dan kehangatan yang terus diwariskan lintas generasi.

Di sebuah warung kecil di sudut kota Tulungagung, pagi hari dimulai bukan dengan rapat, tapi dengan cangkir kopi dan sebatang rokok yang dilukis perlahan sebagai bagian proses nyethe.

Tangannya cekatan, wajahnya tenang. Bukan seniman, bukan juga barista. Ia hanyalah warga biasa tapi sedang merawat sesuatu yang luar biasa. Tradisi nyethe.

Nyethe, dalam bahasa lokal, berarti mengoleskan ampas kopi pada batang rokok, lalu membakarnya. Tapi bagi warga Tulungagung, nyethe jauh lebih dalam maknanya.

Nyete bisa jadi cara menyambut hari, merayakan obrolan, dan mengingat mereka yang dulu pernah duduk di bangku yang sama.

Berawal dari kebiasaan petani tempo dulu yang mampir ke warung kopi sepulang dari sawah, nyethe kini menjelma menjadi bagian dari identitas kota. Bahkan, beberapa menyebut Tulungagung sebagai Kota Warung Kopi Cethe.

Dua jenis kopi utama kopi hitam dan kopi ijo menjadi bahan dasar. Dihaluskan, diseduh, lalu ditambahkan sedikit susu cair untuk merekat.

Rokok menjadi kanvas, dan dari situ muncul motif sulur, tribal, hingga tokoh pewayangan. Bukan hanya rokok, ini batik dalam bentuk paling sederhana dan membumi.

Menariknya, generasi muda justru turut menghidupkan tradisi ini. Komunitas-komunitas nyethe bermunculan.

Mereka tidak hanya berkumpul untuk ngopi, tapi juga memamerkan motif nyethe terbaru mereka di media sosial. Tradisi yang dulunya diam, kini bersuara lantang di era digital.

Menurut Abdul Goni atau Pak Dul, pemilik warung kopi legendaris di Boyolangu, ada sesuatu yang tak tergantikan dari suasana warung nyethe. “Orang ke sini bukan cari Wi-Fi. Mereka cari temen ngobrol. Tempat pulang, tempat tenang,” katanya.

Di tengah dunia yang makin cepat dan bising, nyethe adalah ruang jeda. Mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru.

Untuk menghirup, bukan sekadar menghisap. Untuk mendengar, bukan hanya berbicara.

Nyethe bukan hanya budaya. Bisa jadi pengingat, bahwa hal-hal kecil bisa membuat kita merasa besar lebih manusiawi, lebih terhubung, dan lebih hidup.

Jadi, lain kali Anda ke Tulungagung, jangan cuma cari oleh-oleh marmer. Duduklah sejenak di warung kopi. Pesan secangkir kopi cethe. Ambil rokok. Cethelah. Biarkan cerita dimulai dari ujung jari Anda sendiri.(rin/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #nyethe #budaya lokal