Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengrajin Anyaman Bambu di Desa Gandong Tulungagung, Menjaga Tradisi dari Hati dan Tak Terpengaruh Modernitas Zaman

Rinto Wahyu Hidayat • Rabu, 28 Mei 2025 | 00:04 WIB

 

Desa Gandong, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, memiliki geliat warga produksi aneka anyaman bambu.
Desa Gandong, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, memiliki geliat warga produksi aneka anyaman bambu.

TULUNGAGUNG - Di balik rimbun pepohonan dan semilir angin pedesaan, Desa Gandong, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, menyimpan denyut kehidupan yang tak banyak berubah sejak puluhan tahun silam.

Di sudut-sudut rumah warga, terdengar bunyi khas bilah bambu saling bersentuhan ritme yang mengiringi tangan-tangan terampil pengrajin kalo, warisan budaya dari jantung Tulungagung.

Tak perlu jauh melangkah di Gandong untuk menyaksikan kegiatan menganyam bambu. Hampir setiap blok rumah di desa ini menjadi saksi hidup kerajinan yang bertahan di tengah zaman serba digital di Tulungagung.

Kalo, anyaman bambu berbentuk bundar yang biasa digunakan menyaring santan tetap digemari, tak hanya di Tulungagung, tetapi juga merambah hingga ke pasar Jawa Tengah.

Anjarwati, pengrajin asal Dusun Morosebo, desa setempat tersenyum ramah sembari mengayunkan pisau serut ke sebatang bambu.

“Kami sudah buat kalo (sejenis anyaman bambu) sejak saya kecil. Dulu ibu saya juga begitu. Sekarang saya ajari cucu,” tuturnya dengan nada bangga.

Bagi warga Tulungagung seperti Anjarwati, menganyam bukan hanya soal penghasilan, tapi juga menjaga jejak warisan leluhur.

Di bengkel kecilnya, Anjarwati bekerja bersama dua rekannya. Satu menyerut, satu menyiapkan bahan, satu lagi menganyam.

Dalam lima hari, mereka bisa menyelesaikan 100 unit kalo. Dengan harga Rp 125.000 per kodi, hasil kerja keras mereka terus menghidupi rumah tangga, meski harga bahan baku bambu di Tulungagung makin naik saban tahun.

Keunikan kerajinan Desa Gandong juga mulai menarik perhatian kolektor produk tradisional. Beberapa pengepul memasarkan hasil anyaman ini ke luar daerah, bahkan ke toko-toko dekorasi rumah yang menyukai nuansa etnik.

Tak jarang kalo dari Tulungagung menghiasi kafe-kafe bergaya rustic di kota besar, membawa nuansa pedesaan ke tengah hiruk pikuk modernitas.

Bagi Tulungagung, Desa Gandong bukan sekadar titik di peta. Ia adalah penjaga tradisi, penganyam harapan, dan contoh bagaimana warisan lokal dapat menjadi sumber daya yang lestari.

Di era yang serba cepat, suara anyaman bambu dari Gandong seolah mengingatkan: kearifan lama tak lekang oleh waktu.(rin/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Desa Gandong #tulungagung #anyaman bambu