TULUNGAGUNG - Di tengah gemuruh arus sungai Desa Keboireng, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, suara gemericik air bercampur denting logam terdengar dari tepian Sungai Keboireng.
Tapi ini bukan suara orang mencuci atau bermain air. Ini adalah bunyi wajan-wajan yang menari di dasar sungai, dalam ritual baru warga mencari keberuntungan, mendulang emas di wilayah selatan Tulungagung.
Yang mereka cari bukan sebatas logam mulia, melainkan secercah harapan. Sejak dua bulan terakhir, kebiasaan warga Tulungagung pesisir pantai ini berubah. Para lelaki, perempuan, bahkan anak-anak, turun ke sungai dengan semangat tak biasa.
Bukan karena ajakan pemerintah atau program desa melainkan karena kabar yang menyebar dari mulut ke mulut: "ada emas di sungai."
Awalnya, hanya dua orang dari Kediri yang diam-diam mendulang. Tapi begitu warga Keboireng mengetahui, cerita itu menyebar seperti api di musim kemarau.
"Awalnya saya kira mereka cari pasir. Eh, ternyata emas," kata Supirin, Kepala Desa Keboireng, sambil tersenyum kecil.
Di Tulungagung, kabar emas di sungai ini jadi obrolan dari warung kopi hingga grup WhatsApp RT.
Meski hasilnya tak seberapa sekitar seperempat hingga setengah gram sehari bagi banyak warga Tulungagung, ini tetap berarti.
Di tengah tekanan ekonomi, secuil emas bisa jadi secercah harapan.
Namun, di balik harapan itu, muncul tanya ? Apakah ini semua legal? Apakah aman? Sungai Keboireng ternyata berada di kawasan milik Perhutani, dan alirannya di bawah kewenangan BBWS.
“Saya tidak punya kewenangan memberi izin. Ini tanah negara,” jelas Supirin, lirih namun tegas.
Pemerintah desa pun dibuat serba salah. Ingin mendukung warga, tapi dibatasi aturan.
Kini, bersama polsek, Koramil, Perhutani, desa berencana memasang papan larangan di titik-titik rawan.
Bukan untuk mematikan harapan, tapi untuk menjaga agar Sungai Keboireng tidak rusak oleh aktivitas berlebihan. “Kami takut ada yang nekat gali tebing. Bisa bahaya,” ujar Supirin.
Yang membuat hati makin galau, belum ada peraturan desa (Perdes) yang bisa jadi payung hukum. Supirin pun berkali-kali mengingatkan warga jangan terlalu larut dalam euforia.
“Jangan tinggalkan pekerjaan utama. Emas ini bisa habis, tapi sawah dan ladang tak pernah ke mana-mana,” pesannya bijak.
Fenomena mendulang emas ini viral di media sosial. Tulungagung mendadak jadi perbincangan nasional. Tapi di balik layar smartphone, ada wajah-wajah penuh peluh dan harapan.
Emas yang mereka cari mungkin tak banyak, tapi bagi mereka, inilah perjuangan hidup yang nyata di dasar sungai, di antara kerikil, lumpur, dan doa yang terus dipanjatkan.
Sungai Keboireng hari ini bukan sekadar aliran air. Lokasi telah menjelma jadi cermin bagi masyarakat Tulungagung. Memantulkan kisah tentang keberanian, keluguan, dan batas antara impian dan peraturan.
Entah sampai kapan emas itu bertahan. Tapi selama masih ada harapan, wajan-wajan itu akan terus berputar di tangan-tangan warga yang tak pernah lelah memperjuangkan hidup.(rin)
Editor : Didin Cahya Firmansyah