Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Horeg Emas di Tulungagung, Warga Mendulang Harapan dari Wajan di Dapur kini Berubah Jadi Alat Tambang

Rinto Wahyu Hidayat • Rabu, 28 Mei 2025 | 15:00 WIB

 

Warga di pesisir selatan Tulungagung ini beramai-ramai menyusuri Sungai Keboireng di Desa Keboireng, Kecamatan Besuki, sambil menenteng wajan.
Warga di pesisir selatan Tulungagung ini beramai-ramai menyusuri Sungai Keboireng di Desa Keboireng, Kecamatan Besuki, sambil menenteng wajan.

TULUNGAGUNG - Siapa sangka, alat masak yang biasanya ada di dapur kini menjadi “alat tambang” paling dicari di Desa Keboireng, Kecamatan Besuki, Tulungagung.

Bukan gimmick reality show, ini nyata. Warga di pesisir selatan Tulungagung ini beramai-ramai menyusuri Sungai Keboireng sambil menenteng wajan. Tujuannya, mencari emas.

Fenomena ini bermula dari dua orang asing dari Kediri bertandang ke Tulungagung yang secara diam-diam mendulang di sisi selatan sungai. Awalnya tak ada yang curiga. “Saya kira cuma cari pasir,” ujar Supirin, Kepala Desa Keboireng.

Tapi setelah diketahui bahwa yang dicari adalah butiran emas, suasana desa langsung berubah. Di Tulungagung, horeg kabar emas lebih cepat menyebar melalui media sosial.

Dalam waktu singkat, warga dari berbagai usia termasuk anak-anak sekolah dasar ikut meramaikan pinggiran sungai. Setiap pagi, wajan-wajan memenuhi aliran Sungai Keboireng.

Suasananya seperti pasar dadakan di air. Yang mereka cari memang bukan bongkahan besar, hanya serpihan kecil emas. Tapi bagi warga Tulungagung, itu cukup untuk beli beras, atau setidaknya menambah harapan.

Namun di balik gemerlap cerita ini, muncul pertanyaan besar: legal atau tidak? Artinya, aktivitas mendulang ini tidak memiliki dasar hukum. “Saya tidak berani izinkan. Ini tanah negara,” tegas Supirin, yang juga khawatir akan dampak lingkungan jangka panjang.

Nantinya untuk mengontrol situasi. “Kami bukan ingin mematikan harapan warga, tapi harus ada batas agar alam tidak dirusak,” lanjutnya.

Beberapa titik bahkan mulai terlihat terkikis akibat galian liar.

Yang makin menarik, belum ada kajian resmi mengenai asal muasal emas ini. Tidak ada laporan geologi. Tidak ada catatan eksplorasi. “Murni temuan warga. Ini seperti berkah dari sungai,” ucap Supirin.

Tulungagung pun mendadak jadi magnet pemburu emas lokal, bahkan sempat viral di media sosial dengan tagar #EmasKeboireng.

Namun seperti semua kisah emas, cerita ini juga rawan berubah jadi ironi. Tanpa aturan, tanpa pengawasan, bisa saja harapan berubah jadi bencana.

Baca Juga: Warga di Desa Keboireng Tulungagung Ramai-Ramai Mendulang Emas di Sungai, Begini Penuturan Kepala Desa

Maka Supirin terus mengingatkan warganya untuk tetap bekerja seperti biasa, jangan berharap terlalu jauh. “Wajan bukan alat pasti. Ini cuma untung-untungan,” katanya dengan nada pelan.

Di Tulungagung, Sungai Keboireng kini punya dua wajah: sebagai sumber air kehidupan, dan ladang harapan baru.

Antara lumpur, batu, dan sinar matahari yang memantul di permukaan air, warga terus mencari sesuatu yang lebih dari sekadar emas mereka sedang mencari peluang, martabat, dan secuil keajaiban dari alam. (rin)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#JLS #tulungagung #tambang emas #desa keboireng