Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Permainan Tradisional Anak Tulungagung yang Hampir Punah dari Riuh di Lapangan Jadi Kenangan

Yoga Dany Damara • Kamis, 29 Mei 2025 | 14:00 WIB

 

Permianan tradisional bagi anak-anak Tulungagung yang hampir punah.
Permianan tradisional bagi anak-anak Tulungagung yang hampir punah.

TULUNGAGUNG- Di tengah derasnya arus teknologi dan gawai pintar, suara riuh tawa anak-anak di Tulungagung yang dulu memenuhi lapangan kini mulai sirna.

Di Tulungagung, kota yang kaya akan budaya dan tradisi, sejumlah permainan tradisional yang dahulu akrab dimainkan anak-anak, kini hanya tinggal cerita.

Permainan tradisional di Tulungagung  seperti egrang, benthik, dan gobak sodor yang dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari masa kecil saat, perlahan menghilang ditelan zaman.

  1. Egrang Meniti di Atas Bambu, Menjaga Keseimbangan dan Semangat

Egrang adalah permainan yang mengandalkan keseimbangan tubuh. Terbuat dari batang bambu yang diberi pijakan, permainan ini dulu sering dimainkan di halaman sekolah atau lapangan kampung. Anak-anak berlomba-lomba siapa yang bisa berjalan paling jauh tanpa jatuh.

Selain melatih motorik dan keseimbangan, egrang juga menumbuhkan semangat sportivitas dan keberanian. Sayangnya, kini engrang lebih sering terlihat sebagai pajangan di festival budaya daripada dimainkan sehari-hari.

  1. Benthik Permainan Sederhana yang Penuh Strategi

Benthik atau "patil lele" merupakan permainan yang sangat populer di masa lalu. Hanya bermodalkan dua batang kayu kecil, anak-anak bisa bermain selama berjam-jam. Satu batang dipukul untuk dilontarkan, lalu dipukul kembali sejauh mungkin oleh lawan. Yang menarik, permainan ini mengajarkan strategi, perhitungan, dan kerja sama.

Kini, benthik jarang terlihat. Lapangan luas tempat bermain sudah tergantikan oleh perumahan dan jalan beraspal, sementara anak-anak lebih memilih layar ponsel daripada tongkat kayu.

  1. Gobak Sodor Taktik, Kecepatan, dan Kerja Tim

Gobak sodor adalah permainan beregu yang mengandalkan kecepatan dan strategi. Dua tim saling berhadapan, berusaha melewati garis penjagaan lawan tanpa tersentuh. Dulu, suara teriakan penyemangat dan gelak tawa dari anak-anak yang bermain gobak sodor menjadi pemandangan biasa di sore hari.

Namun kini, gobak sodor hanya dikenang saat perayaan Hari Kemerdekaan atau lomba agustusan. Anak-anak zaman sekarang lebih mengenal permainan daring daripada tradisi yang mengasah kebersamaan ini.

 Baca Juga: Lima Pantai di Selatan Tulungagung yang Belum Banyak Dijamah Namun Suguhkan Keindahan Alami

Permainan tradisional bukan hanya soal bersenang-senang. Di balik kesederhanaannya, terkandung nilai-nilai penting kerja sama, kejujuran, keberanian, dan kreativitas. Semua itu menjadi bekal berharga dalam membentuk karakter anak.

Sayangnya, semakin hari permainan ini semakin terpinggirkan. Minimnya ruang terbuka, kesibukan orang tua, serta dominasi teknologi membuat permainan tradisional kian tersisih.

Kini saatnya kita bertanya apakah kita rela membiarkan permainan ini punah? Apakah kita akan membiarkan anak-anak tumbuh tanpa mengenal keseruan bermain di dunia nyata?.

Pemerintah daerah, sekolah, dan orang tua bisa berperan dalam menghidupkan kembali permainan tradisional. Mengadakan lomba, membuat pelajaran muatan lokal, hingga menyediakan ruang terbuka untuk bermain bisa menjadi awal yang baik.

Karena permainan tradisional bukan sekadar nostalgia. Ia adalah warisan budaya yang hidup, yang bisa menghubungkan generasi, membangun karakter, dan mengisi masa kecil dengan tawa dan kenangan indah. (*)

 

 

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #tradisional #egrang #gobak sodor #permainan #Benthik #zaman