TULUNGAGUNG - Di balik lereng perbukitan hijau dan udara sejuk khas Tulungagung, terdapat sebuah desa yang menyimpan kearifan lokal dalam bentuk kerajinan tangan yang telah diwariskan secara turun-temurun, dalam sebuah anyaman bambu.
Yaitu di Desa Mirigambar, yang terletak di Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Warga sekitar menyebut hasil kerajinan ini dengan nama irek atau kalo sebutan di Tulungagung merujuk pada wadah berbentuk bulat cekung terbuat dari pisau bambu, biasa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga: Mengenal Wahyudi Setiana, Pengusaha Kerajinan Kulit Tulungagung yang Tembus Pasar Internasional
Hampir setiap hari, terutama di pagi hingga siang hari, derik suara bambu yang dipotong, dibelah, dan dianyam terdengar dari rumah-rumah warga.
Proses pembuatan irek ini dimulai dari pemilihan bambu yang tepat, yang kemudian direndam agar lebih lentur dan tahan lama.
Setelah itu, bilah pisau bambu dipotong kecil-kecil dan diraut hingga halus, sebelum akhirnya dianyam dengan pola silang khas yang kokoh dan estetis.
Anak-anak, orang tua, hingga para lansia turut terlibat dalam proses ini.
Kerajinan irek bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari ritme kehidupan dan budaya lokal yang mempererat hubungan antarwarga.
Banyak ibu rumah tangga di Desa Mirigambar memanfaatkan waktu luang mereka untuk membuat irek di rumah.
Hasil kerajinan tersebut kemudian dijual ke pasar tradisional atau pengepul dari luar daerah, seperti Tulungagung kota, Blitar, hingga Kediri.
Baca Juga: Suka Duka Agus Hartoyo Menjaga Eksistensi Kerajinan Ukir Kayu di Tulungagung
Harganya relatif terjangkau, sehingga produktivitas dan kualitas kerajinan warga membuat permintaan terhadap irek tetap stabil.
Desa Mirigambar membuktikan bahwa warisan budaya tidak hanya dapat dijaga, tetapi juga menjadi sumber kehidupan yang lestari.
Di tangan para pengrajin yang tekun dan konservasi, irek bukan sekadar wadah yang terbuat dari anyaman bambu, melainkan simbol kerja keras, keterampilan, dan cinta terhadap tradisi. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah