Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Lima Kata Bahasa Tulungagung yang Susah Diartikan ke Bahasa Indonesia

Yoga Dany Damara • Sabtu, 31 Mei 2025 | 17:30 WIB
Tulungagung bukan cuma kaya wisata dan kulinernya, tapi juga punya kekhasan bahasa daerah yang unik dan sering bikin bingung bahkan bagi orang Jawa sendiri.
Tulungagung bukan cuma kaya wisata dan kulinernya, tapi juga punya kekhasan bahasa daerah yang unik dan sering bikin bingung bahkan bagi orang Jawa sendiri.

TULUNGAGUNG - Tulungagung bukan cuma kaya wisata dan kulinernya, tapi juga punya kekhasan bahasa daerah yang unik dan sering bikin bingung bahkan bagi orang Jawa sendiri.

Ada banyak kata khas yang hanya dipahami oleh warga Tulungagung, dan kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia secara harfiah, hasilnya bisa lucu atau malah nggak nyambung.

Nah, berikut ini 5 kata dalam bahasa Tulungagung yang susah banget diartikan ke bahasa Indonesia!

  1. Ngglimeng

Kata ini biasanya dipakai untuk menggambarkan seseorang yang linglung, melamun, atau terlihat "blank". Misalnya: “Kowe kok nggllimeng ngono, mikir opo toh?”

Kalau diterjemahkan jadi “Kamu kok ngglimeng begitu, mikir apa sih?”—orang luar mungkin bingung, karena “ngglimeng” tidak punya padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia. Istilah ini lebih ke ekspresi wajah dan suasana hati yang campur aduk antara bingung, capek, dan nggak fokus.

  1. Makbleng

Ini adalah ekspresi untuk menggambarkan rasa kaget atau kehabisan kata-kata setelah melihat atau mengalami sesuatu. Contoh: “Deloken regone, makbleng aku!”

Kalau diartikan: “Lihat harganya, aku makbleng!”—apa itu makbleng? Nggak ada terjemahan tepatnya. Rasanya campur antara kaget, heran, sampai nyaris nggak percaya. Pokoknya ekspresi spontan khas Tulungagung banget! 

  1. Giyek

“Giyek” biasanya dipakai saat seseorang merasa geli atau merinding karena sesuatu yang menjijikkan atau mengganggu, tapi bukan takut. Contoh: “Delok kecoa mabur, aku langsung giyek.”

Dalam bahasa Indonesia, kata “geli” bisa dekat, tapi tetap kurang pas. “Giyek” lebih ke reaksi refleks seperti menarik badan atau menjauh karena rasa jijik campur risih.

  1. Cekot-cekot

Nah, ini sering dipakai buat menggambarkan sakit kepala berdenyut-denyut. Misalnya: “Waduh, sirahku cekot-cekot, ndang nggolek kopi sek.”

Kalau diterjemahkan jadi “Kepalaku cekot-cekot”—orang mungkin bakal bingung. Cekot-cekot adalah kata yang sangat deskriptif secara bunyi, menggambarkan denyutan sakit kepala atau nyeri otot yang nggak bisa dijelaskan hanya dengan kata “sakit”.

  1. Ndangak

“Ndangak” artinya melihat ke atas, tapi konteks pemakaiannya bisa lucu atau mengejek, tergantung nada. Contohnya: “Ndangak wae, ketok norakmu.”

Kalau diterjemahkan jadi “Lihat ke atas saja, kelihatan norakmu”—kesan sindirannya masih nggak tertangkap kalau nggak ngerti budaya lokal. Kadang, “ndangak” juga dipakai buat menggambarkan orang yang kagum berlebihan atau gampang terpesona.

Bahasa daerah seperti bahasa Tulungagung nggak cuma soal kata-kata, tapi juga budaya, emosi, dan konteks.

Banyak istilah yang hanya bisa dipahami kalau kamu hidup di tengah masyarakatnya. Itulah kenapa kata-kata seperti “makbleng” atau “giyek” sulit dijelaskan hanya dengan kamus.

Bahasa lokal punya kekuatan tersendiri yang bikin komunikasi jadi lebih hidup dan ekspresif.

Jadi, kalau kamu main ke Tulungagung dan dengar kata-kata aneh yang nggak ada di kamus, jangan heran ya! Itu bagian dari pesona lokal yang bikin daerah ini makin unik.

Dan siapa tahu, kamu bakal mulai pakai kata “ngglimeng” atau “cekot-cekot” dalam obrolan sehari-hari. Siap-siap aja ditanya: “Kamu orang Tulungagung, ya?”

Kalau kamu tahu kata unik lainnya dari Tulungagung yang susah diterjemahkan, tulis di kolom komentar ya. (*)

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#bahasa #tulungagung #jawa #warga lokal