Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jam Karet ala Tulungagung Mitos atau Tradisi Tak Tertulis?

Yoga Dany Damara • Senin, 2 Juni 2025 | 20:15 WIB
Di Tulungagung, fenomena ini sering kali dibalut dengan santai dan candaan. Kadang malah jadi bahan obrolan ringan. Ada kalimat-kalimat yang kocak.
Di Tulungagung, fenomena ini sering kali dibalut dengan santai dan candaan. Kadang malah jadi bahan obrolan ringan. Ada kalimat-kalimat yang kocak.

TULUNGAGUNG- Pernah janjian sama orang Tulungagung pukul 10.00, tapi baru ngumpul pukul 11.00 lewat?

Kalau iya, tenang, kamu nggak sendiri. Fenomena "jam karet" ini memang sudah jadi semacam budaya tak tertulis di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Tulungagung.

Tapi, sebenarnya ini mitos semata, kebiasaan, atau justru sebuah bentuk kearifan lokal Tulungagung yang patut dipahami? 

Istilah "jam karet" mengacu pada kebiasaan datang tidak tepat waktu atau molor dari waktu yang telah disepakati.

Di Tulungagung, fenomena ini sering kali dibalut dengan santai dan candaan. Kadang malah jadi bahan obrolan ringan, “Lho, masih jam segini kok, ngapain buru-buru?”

 Baca Juga: Keluhan Petani Tulungagung: Pupuk Subsidi sangat Dibutuhkan saat Musim Tanam Padi, Jangan Ada Pembatasan hingga Keterlambatan

Warga Tulungagung dikenal ramah dan tidak terburu-buru. Hidup di kota yang tak sepadat metropolitan membuat ritme kehidupan berjalan lebih santai.

Bagi sebagian orang lokal, keterlambatan bukan dianggap sebagai hal besar asal masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu keseluruhan acara. 

Acara hajatan misalnya. Undangan tertulis pukul 19.00, tapi tamu biasanya baru ramai berdatangan setelah pukul 20.00. Dan anehnya, semua tetap berjalan lancar. Seolah sudah ada kesepakatan tidak tertulis antara tamu dan tuan rumah.

 Baca Juga: Sosok Desire Doue, Remaja yang Jadi Pemain Terbaik Final Liga Champions 2024/2025

Ada yang bilang “jam karet” itu budaya yang buruk karena menurunkan produktivitas dan menghancurkan komitmen waktu.

Tapi, di sisi lain, ini bisa jadi bentuk fleksibilitas sosial yang menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Di Tulungagung, keterlambatan bisa dimaklumi karena banyak faktor: cuaca, kondisi jalan, atau sekadar mampir dulu ke warung kopi langganan sebelum ke tempat tujuan.

 Baca Juga: Spot Terbaik Mengamati Bintang di Tulungagung, Surga Bagi Pecinta Langit Malam

Menariknya, generasi muda Tulungagung mulai menunjukkan pergeseran. Mereka lebih terbiasa dengan budaya tepat waktu, apalagi yang sudah akrab dengan dunia kerja profesional atau komunitas digital.

Beberapa bahkan menyebut “jam karet” sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan, meski kadang masih ditoleransi kalau situasinya mendukung.

"Jam karet" di Tulungagung bukan sekadar mitos, tapi lebih ke cerminan cara hidup yang santai dan penuh tenggang rasa.

Namun, di tengah dunia yang makin cepat bergerak, mungkin sudah waktunya kita mengatur ulang cara memandang waktu tanpa harus kehilangan kehangatan dan keluwesan khas orang Tulungagung.

Tepat waktu boleh, tapi jangan lupa tetap ramah dan nggak bikin orang tegang. Karena di Tulungagung, waktu memang lentur, tapi hati tetap hangat. 

Kalau kamu punya pengalaman unik soal “jam karet” di Tulungagung, yuk share di kolom komentar! Siapa tahu, ceritamu bikin kita makin paham budaya kita sendiri. (*)

 

 

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#mitos #kearifan lokal #tulungagung #jam karet