TULUNGAGUNG - Tulungagung bukan hanya dikenal sebagai Kota Marmer atau surga pantai di Jawa Timur, tapi juga sebagai tanah yang kaya akan budaya, termasuk musik dan lagu daerah yang menjadi cerminan identitas masyarakatnya.
Di balik hiruk-pikuk modernisasi dan perkembangan zaman, warisan musik tradisional Tulungagung terus hidup, mengalir dalam denyut kehidupan masyarakatnya.
Dari tembang rakyat yang sarat makna hingga pertunjukan musik khas yang menggema di panggung-panggung budaya, semuanya membentuk karakter unik Tulungagung.
Lagu daerah Tulungagung tak hanya sekadar hiburan. Ia adalah potret sosial, sejarah, bahkan filosofi hidup orang-orang Tulungagung.
Salah satu tembang rakyat yang cukup dikenal adalah “Tulungagung Ayem Tentrem”, sebuah lagu yang menggambarkan suasana damai dan rukun di wilayah ini.
Lirik-lirik sederhana dalam bahasa Jawa ini memiliki pesan mendalam tentang pentingnya menjaga keharmonisan dan rasa syukur terhadap alam yang melimpah.
Selain itu, ada juga lagu-lagu dolanan anak seperti “Cublak-Cublak Suweng” yang meskipun dikenal secara luas di Jawa, juga tetap hidup di Tulungagung sebagai bagian dari permainan dan pendidikan karakter bagi anak-anak.
Lagu seperti ini tak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghidupkan kembali semangat gotong-royong dan kebersamaan.
Musik tradisional di Tulungagung sangat beragam. Salah satu yang paling lekat dengan identitas daerah ini adalah jaranan.
Kesenian jaranan atau kuda lumping, lengkap dengan iringan gamelan dan tembang pengiring, menjadi pertunjukan khas dalam berbagai acara adat maupun hajatan.
Musiknya keras, ritmis, dan penuh energi – mencerminkan semangat masyarakat agraris yang kuat dan gigih.
Baca Juga: Spot Surfing Terbaik di Pantai Selatan Tulungagung Surga Para Peselancar
Ada juga campursari, perpaduan musik tradisional Jawa dengan sentuhan modern seperti keyboard atau gitar elektrik.
Musik ini banyak digemari karena fleksibel, bisa dimainkan dalam berbagai acara dari formal hingga hiburan santai.
Campursari Tulungagung sering membawakan lagu-lagu lokal dengan aransemen yang lebih segar, membuat anak muda lebih mudah menerima dan mencintai warisan budaya mereka.
Uniknya, perkembangan musik modern di Tulungagung tak serta merta meninggalkan tradisi. Banyak seniman lokal yang mulai menggabungkan unsur tradisional dalam lagu-lagu pop atau dangdut koplo.
Beberapa grup musik lokal bahkan menggunakan lirik berbahasa Jawa dan mengangkat tema-tema khas daerah seperti kehidupan petani, suasana desa, hingga romantisme khas kampung halaman.
Media sosial dan platform digital kini menjadi panggung baru bagi musisi Tulungagung. Lagu-lagu yang sebelumnya hanya dinyanyikan di acara-acara lokal, kini bisa menjangkau penikmat dari luar daerah, bahkan luar negeri.
Identitas sebuah daerah tidak hanya dibentuk oleh sejarah atau geografisnya, tapi juga oleh suara, oleh lagu dan musik yang mengalun dari hati warganya.
Tulungagung, lewat tembang dan irama tradisionalnya, berhasil mempertahankan jati diri yang khas di tengah arus budaya luar yang terus mengalir masuk.
Menjaga lagu daerah dan musik tradisional bukan berarti menolak kemajuan, tapi justru memperkuat akar sambil menjulang ke langit. Karena dari nada-nada itulah, kita belajar siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan melangkah.
Kalau kamu ingin mengangkat budaya Tulungagung lewat musik dalam media sosial atau blog, artikel ini bisa kamu jadikan pondasi.
Mau dikembangkan jadi seri konten juga bisa, tinggal kamu pilih sisi mana yang ingin lebih ditonjolkan, lagunya, senimannya, atau cerita di balik musiknya. Mau aku bantu lanjutannya? (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah